About

Tentang Ambunatya

Tahun 2020 adalah tahun yang sangat istimewa. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa tatanan hidup kita akan berubah dalam waktu sekejap. Pandemi Covid-19 mengubah banyak hal dalam hidup kita.

Setelah berbulan-bulan mengurangi kegiatan karena Covid-19 yang belum pasti kapan akan berlalu, akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa hidup kita sangat rapuh. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Jadi, mau tidak mau, kita harus memanfaatkan waktu yang kita miliki sebaik mungkin.

KH Hasyim Asy’ari dengan bijak mengingatkan kita dengan ucapannya yang saya tulis di atas. Ucapan beliau membuat saya merenungi apa yang sudah saya lakukan selama ini. Di sisa hidup saya, saya ingin menjadi manusia yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Dari perenungan itu, lahirlah Ambunatya.

Namanya saya ambil dari tanah Sunda, tempat saya berasal. Ambu artinya Ibu, na adalah kata sambung, dan Tia adalah nama putra saya. Jadi artinya sederhana: Ibunya Tia.

Saat itu AI belum secanggih sekarang. Saya harus ngulik sendiri: baca tutorial, nonton video di YouTube, trial and error mendesain WordPress, sejak awal dengan versi berbayar karena saya ingin serius menekuninya. Setelah tiga bulan berkutat, akhirnya blog ini selesai dibangun.

Orang tua dulu bilang, jika tak kenal maka tak sayang. Maka izinkan saya memperkenalkan diri. Saya Damayanti, penulis di blog ini. Saya lahir dan tumbuh besar di Bandung, menempuh pendidikan SD sampai S-1 di kota kelahiran saya itu.

Selepas kuliah di Universitas Parahyangan Bandung, saya melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2 dengan jurusan komunikasi massa di Morehead State University, Kentucky, AS. Tahun 1996, saya kembali ke Indonesia dan bekerja di satu perusahaan asing di Jakarta.

Kurang lebih empat tahun saya bekerja di sana, sebelum memutuskan untuk mengundurkan diri agar bisa berkonsentrasi mengurus keluarga dan berwirausaha. Usaha yang saya pilih adalah pekerjaan di bidang pendidikan. Saya mendirikan taman kanak-kanak pada tahun 2001, agar saya bisa lebih terlibat dalam pengasuhan dan pendidikan putra saya. Saya juga pernah mengajar dan menjadi dosen “terbang” di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta.

Untuk mengembangkan pengetahuan saya mengenai perilaku manusia, di tahun 2002 saya memutuskan kembali ke bangku kuliah. Program sarjana ekstensi fakultas psikologi UI menjadi pilihan saya. Sayangnya, sampai sekarang saya masih belum punya kesempatan untuk mengambil program magister profesi psikologi tersebut. Meskipun demikian, menempuh pendidikan dengan jurusan berbeda membuka wawasan saya.

Lalu, Ambunatya sempat sepi. Hampir tiga tahun lamanya.

Dan ternyata, di tahun 2026 ini, Ambunatya kembali hidup, bukan lagi sekadar jurnal pribadi, tapi wadah bagi lima ruang berkarya: AI4PAUD, Bumi Ambunatya, Ambunatya Journal, Ambunatya Systems, dan Ambunatya Books.

Ambunatya hari ini terdiri dari lima ruang. Masing-masing punya suara sendiri, tapi tetap berjalan menuju arah yang sama.

Bumi Ambunatya Ruang untuk merawat dan berbagi. Tempat cerita tentang kepedulian, pengasuhan, dan sisi manusiawi dari setiap perjalanan.

AI4PAUD Ruang belajar untuk para guru PAUD Indonesia, bagaimana teknologi dan AI bisa jadi teman mengajar, bukan pengganti.

Ambunatya Journal Catatan perjalanan membangun Ambunatya itu sendiri. Jujur, reflektif, tanpa berlebihan menceritakan yang belum tentu berhasil.

Ambunatya Systems Ruang untuk insight yang lebih dalam, bagaimana sistem, proses, dan struktur dibangun di balik layar.

Ambunatya Books Kumpulan karya tulis dan ebook, hasil kolaborasi ide dan teknologi, untuk orang tua, guru, dan siapa saja yang ingin belajar lebih baik.

Lima ruang, satu rumah.

Saya berharap apa yang saya tuliskan di sini bisa bermanfaat bagi sobat yang membacanya. Semoga.

Kadang kita hanya bergerak, tanpa tahu rencana semesta untuk kita.