Bali, Pulau Para Dewa : Hari Pertama

Apa yang terlintas dipikiran Anda saat mendengar kata Bali? Ada berbagai jawaban tentunya. Tapi mungkin jawaban Anda sama dengan saya. Ketika mendengar kata Bali, pikiran saya akan mengasosiasikannya dengan pantai, pura, lukisan, ukiran, tarian, upacara ngaben, pemandangan sawah dengan subaknya, kerajinan tangan khas Bali,dan penduduknya yang masih menggunakan pakaian khas daerah saat melakukan upacara keagamaan dan adat.  

Sejak dulu, Bali sudah dikenal di dunia internasional karena keindahan alam, budaya dan adat istiadatnya. Ada banyak hal yang bisa diekplorasi saat kita berkunjung ke pulau dewata. Rasanya rugi kalau kita melewatkan kesempatan untuk mengunjungi pulau yang satu ini.

Oleh karena itu, saat liburan semester si boss di bulan Januari yang lalu, kami memutuskan untuk mengunjungi Bali sebagai destinasi kedua perjalanan kami. Apalagi saya sudah lama sekali tidak ke sana. Terakhir saya ke sana tahun 1997. Jadi sudah 23 tahun yang lalu. Pastinya sudah banyak yang berubah di Bali saat ini.

Sama seperti perjalanan sebelumnya ke Lombok, kami memesan tiket pesawat dengan memanfaatkan annual pass tiket Air Asia. Setelah perjalanan solo traveling ke Lombok yang disebabkan karena si boss terpaksa batal ikut karena bentrok dengan jadwal ujiannya, akhirnya kami bisa berangkat bersama dalam perjalanan ini.

Tanggal yang kami pilih untuk perjalanan ini adalah tanggal 12 Januari sampai dengan tanggal 16 Januari 2020. Seperti biasa, karena perjalanan dilakukan di saat pandemi, maka sebelum terbang kami harus melakukan rapid test antigen terlebih dahulu. Sama seperti perjalanan ke Lombok, rapid test kami lakukan di RS Harapan Sehati Cibinong. Untuk prosesnya bisa di klik di sini.

Berhubung saya baru tiba dari Lombok pada tanggal 10 Januari 2020, akhirnya urusan packing seperti biasa baru diselesaikan di last minute, satu jam sebelum keberangkatan. Kami tidak mau direpotkan dengan urusan bagasi, oleh karenanya kami berusaha membawa pakaian seminimal mungkin. Selain memilih bahan yang tipis, jumlahnya pun terbatas. Kami berpikir, kalau memang kurang, kami bisa beli di Bali. 

Transportasi yang kami gunakan menuju bandara adalah bus Hiba. Pool bus Hiba bandara dari Depok berada dekat pintu tol Cijago. Di masa pandemi Covid-19, bus ini berangkat setiap satu jam sekali. Dari rumah menuju pool Hiba kami menggunakan taxi. Sesampainya di sana dan setelah membayar tiket bus, saya minta si boss untuk menyelesaikan proses self-check in, dan ternyata sobat Ambunatya, sama seperti perjalanan saya ke Lombok, ternyata ada kejutan yang tidak disangka-sangka buat kami.

Jadwal si boss dan saya ternyata berbeda. Kami tidak berada di jam dan pesawat yang sama. Ia seharusnya berangkat lebih awal dari saya. Mungkin saat pemesanan ada kesalahan saat klik pilihan pesawat, sehingga tiket yang kami pesan akhirnya tidak sesuai yang diinginkan.

Setelah berpikir selama beberapa waktu, kami memutuskan untuk tetap menuju bandara. Selain karena tiket bus tidak bisa dibatalkan, lebih baik ambil resiko saja untuk mencoba atau membeli tiket lagi di bandara. Alhamdulillah akhirnya saya bisa membeli tiket baru, meskipun harga yang berlaku saat itu cukup mahal. Saya harus membayar lagi 625rb rupiah, karena tiket yang sebelumnya sudah hangus. Mau apalagi, suka tidak suka ya kami jalani dan dinikmati saja.

Pesawat mendarat di bandara Ngurah Rai tepat waktu. Setibanya di sana dan setelah melewati prosedur kesehatan yang ditentukan, sembari beristirahat kami memesan hotel. Ada beberapa pilihan, tapi akhirnya untuk hari pertama dan kedua, kami memutuskan untuk menginap di Ibis Seminyak. Lokasi yang tidak jauh dari pantai, banyak tempat makan dan hiburan, membuat kami memilih kawasan ini sebagai destinasi awal perjalanan kami di Bali. Rate yang kami dapatkan pada hari itu Rp. 225rb rupiah. Jika kami memesan lebih awal dua hari sebelumnya kami bisa mendapatkan harga lebih murah seharga 175rb rupiah saja. Pandemi Covid-19 ini menyebabkan tingkat hunian hotel di Bali sangat rendah. Sehingga rate hotel di sana rata-rata jauh lebih rendah dibandingkan hari biasa sebelum pandemi.

Untuk menuju hotel dari bandara, kami menggunakan bus Trans Metro Dewata. Bus ini masih dalam tahap uji coba. Sehingga masih gratis. Kita hanya perlu tapping menggunakan e-money, flazz, dll, dan tarifnya nol rupiah. Kami berhenti di trans studio mall dan makan siang di sana. Dari sana kami memesan gocar untuk menuju hotel Ibis Seminyak.

Hari pertama kami hanya berjalan-jalan di sekitar hotel saja. Malamnya kami beristirahat, dan mulai Menyusun itinerary untuk perjalanan keesokan harinya. Untuk menghemat biaya dan kemudahan,  kami menyewa motor untuk 2 hari. Biaya sewa motor matic Honda perhari Rp. 75.000,- untuk biaya antar Rp. 20.000,-. Servis yang diberikan sangat memuaskan. Saya merekomendasikan bagi sobat Ambunatya yang ingin menyewa motor selama traveling di Bali, bisa menyewanya di sini. Link websitenya bisa diklik di sini.

Rincian biaya hari pertama :

  1. Taxi dan tip dari rumah ke pool Hiba Rp. 25.000,-
  2. Tiket bus Hiba menuju Soetta Rp. 120.000,-
  3. Tiket pesawat Air Asia Rp. 625.000,-
  4. Papabeard sus Rp. 40.000,-
  5. Makan siang di Wendy’s Rp. 109.000,-
  6. Hotel Ibis untuk 2 hari Rp.  450.000,-
  7. Gocar dari TSM ke Ibis Seminyak & tip Rp. 25.000,-
  8. Makan malam Gofood Rp. 41.000,-
  9. Total Pengeluaran Rp. 1.424.000,-