Sebagai orangtua, tentunya kita ingin agar putra-putri kita tumbuh sehat, bahagia dan memiliki rasa percaya diri.
Membesarkan anak-anak yang memiliki kualitas tersebut, bukanlah pekerjaan mudah. Tapi percayalah, jika orang tua sungguh-sungguh berusaha, maka tidak ada kata mustahil. Insya Allah kita bisa melakukannya.
Setelah bertahun-tahun mengajar anak-anak usia dini, dan memiliki putra yang sekarang sudah tumbuh dewasa, saya belajar, bahwa ada beberapa hal yang harus dilakukan agar putra-putri kita tumbuh sehat, bahagia dan percaya diri. Dari berbagai sumber yang ada, saya coba menyarikannya menjadi empat hal.
- Anak yang percaya diri memiliki orang tua yang percaya diri
Jika kita ingin putra-putri kita tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, dan percaya diri, maka sebagai orang tua kita juga harus memiliki kualitas-kualitas tersebut. Dengan begitu akan lebih mudah untuk menularkannya pada anak-anak kita. Karena percaya atau tidak, anak adalah cerminan dari orang tuanya.
2. Buat aturan yang harus dipatuhi anak
Pada dasarnya, anak-anak menginginkan aturan-aturan untuk tumbuh dan berkembang. Diperlukan struktur yang baik dalam kehidupan setiap anak. Arahan, petunjuk dan pendidikan mengenai etika budi pekerti, membuat anak belajar mencapai tujuan dalam hidupnya.
Terkadang orang tua membuat kesalahan dengan membiarkan anak tumbuh tanpa aturan. Mereka menjadikan anak sebagai teman. Orang tua khawatir, jika membuat aturan, anak akan membencinya. Tentu saja hal ini tidak benar.
Sebagai orangtua kita harus mendidik anak agar sabar, disiplin, patuh, tanpa harus menjadi seorang diktator. Caranya bisa dengan menjelaskan bahwa setiap tindakan akan memiliki konsekuensi dan membuat aturan berdasarkan hal tersebut. Jika anak sudah cukup umur, maka anak bisa dilibatkan saat orang tua membuat aturan dengan cara membuat kesepakatan bersama yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga.
Berdasarkan pengalaman mendidik anak-anak, saya melihat bahwa anak senang, jika kita orang tua atau guru, memberikan struktur dan stabilitas dalam kesehariannya.
Salah satu murid saya dulu, senang diajar oleh saya, padahal saya termasuk guru yang tegas memberlakukan aturan. Ketika ia melakukan kesalahan maka saya akan mengingatkannya dan memberikan konsekuensi sesuai kesepakatan yang telah dibuat. Ternyata ia merasa bahwa dengan bersikap tegas, ia merasa saya memperhatikan dan sayang padanya.
3. Dukung atau memberdayakan (empowerment) anak untuk membuat keputusan
Sejak usia dini, anak sudah bisa kita didik untuk belajar membuat keputusan. Kemampuan ini kita sesuaikan dengan usianya. Ketika anak tahu ada reward (imbalan) dan punishment (sanksi) untuk setiap situasi yang mereka hadapi, maka mereka akan belajar untuk membangun rasa percaya dirinya dengan membuat keputusan mereka sendiri.
Untuk anak yang masih sangat muda, orang tua bisa membantu anak dengan mempersempit pilihan yang bisa mereka putuskan. Misalnya orang tua bisa bertanya, apa yang kamu mau untuk makan siang? Makan dengan ayam goreng atau mie goreng?
4. Menggunakan bahasa lisan dan bahasa tubuh yang positif saat berbicara dengan anak
Dalam budaya kita, orang tua pada umumnya sangat melindungi putra-putrinya, bahkan cenderung memanjakan mereka. Orang tua seringkali melarang anak untuk tidak melakukan banyak hal karena mereka khawatir buah hati mereka akan terluka. Sayangnya, hal ini membuat anak akan tumbuh menjadi pribadi yang peragu, dan takut mengambil keputusan serta tergantung pada orang lain. Mungkin kita familiar dengan kalimat kata jangan. Jangan ini, jangan itu, nanti kamu jatuh, nanti kamu sakit, dsb-dsb.
Jika kita ingin anak kita menjadi anak yang sehat, cerdas, dan percaya diri, tentunya kita sebagai orang tua harus memberi kesempatan kepada putra-putri kita untuk melakukan berbagai aktivitas dan mendorong mereka untuk melakukannya sebaik mungkin.
Misalnya saja, jika anak senang berlari-lari di halaman, alih-alih melarang mereka, lebih baik mengatakan bahwa ia boleh lari di halaman tapi harus hati-hati. Atau kita bisa melibatkan anak-anak untuk membantu memasak. Misalnya mereka kita ajari memotong-motong makanan dengan pisau khusus. Tentu sebelumnya kita jelaskan bahwa mereka harus berhati-hati karena pisau tajam dan jika tidak berhati-hati bisa melukai tangan kita.
Saya masih ingat, bagaimana almarhum suami saya membuat daftar aturan ketika anak saya yang masih kelas dua SD, berjalan kaki atau naik sepeda ke sekolah. Ia selalu mengingatkan putra kami agar tidak berjalan di bawah pohon kelapa, jalan dibagian jalan yang benar, dsb. Sehingga sampai dia besar, ia masih menjalankan apa yang ayahnya katakan.
Bahasa sebagai alat komunikasi memiliki dampak besar dalam pertumbuhan seorang anak. Jika anak dibesarkan dengan menggunakan kata-kata yang negatif, maka ia akan tumbuh dengan memandang dunia disekelilingnya dengan sudut pandang negatif.
Ketika orang tua mengatakan bahwa, “Kamu jangan main diluar ya, nanti kamu jatuh” atau orang tua berkata, “Sudah…kamu itu memang tidak bisa main bola”, “Jangan ikut-ikutan ke dapur, malah bikin ribet”, dan kalimat-kalimat negatif lainnya. Ucapan-ucapan negatif yang keluar dari mulut orang tua, mengakibatkan citra diri anak akan menjadi negatif. Tentunya ini akan berpengaruh pada kesehatan, kecerdasan, dan rasa percaya dirinya. Bagaimana mungkin anak akan percaya diri, jika dia tidak memiliki citra diri yang baik, dan menganggap dirinya tidak berharga.
Jadi sebagai orang tua kita harus selalu berusaha untuk mendukung putra-putri kita. Mau meluangkan waktu dan menanggapi semua kebutuhan mereka dengan maksimal. Bahasa tubuh dari orang tua juga sangat penting bagi tumbuhnya kepercayaan diri anak. Mereka akan merasa penting, karena orang tua memberikan perhatian penuh pada kebutuhan mereka. Seandainya kita sibuk, alangkah baiknya jika kita mengatakan pada anak bahwa saat itu kita tidak bisa membantunya tapi katakan bahwa kita akan membantunya ketika kita sudah menyelesaikan urusan kita. Dengan begitu maka anak akan mengerti bahwa orangtuanya peduli akan kehadiran dan keingintahuan mereka.
Sungguh tidak mudah menjadi orang tua. Tapi tentunya tidak berarti bahwa menjadi orang tua adalah hal yang menjadi beban bagi orang yang menjalani. Banyak orang tua yang sukses mendidik anak-anaknya, sangat menikmati proses yang dilakukan.
Ada satu tulisan dari FB Pak Satria Dharma yang sering saya share ke teman-teman saya, karena menurut saya tulisan itu sangat bagus. Mengingatkan agar kita menjadi orang tua yang mampu membimbing dan melepaskan anak-anak kita menjadi orang dewasa yang kuat, mandiri, dan sukses dengan kemampuannya sendiri. Di artikel ini saya share kembali tulisan beliau.
KEPOMPONG DAN PERJUANGANNYA
Seorang pria menemukan sebuah kepompong kupu-kupu. Ia lalu memungutnya untuk melihat bagaimana kupu-kupu akan keluar dari kepompong tersebut.
Keesokan harinya sebuah celah kecil muncul dari kepompong itu. Seekor calon kupu-kupu berupaya keluar dari kepompong. Si pria ini dengan takjub duduk dan memperhatikan calon kupu-kupu itu selama berjam-jam, berusaha keras memaksa tubuhnya keluar melewati lubang kecil itu sedikit demi sedikit. Sampai tiba-tiba ia berhenti membuat kemajuan dan tampak seperti tidak mampu lagi keluar. Si laki-laki merasa kasihan melihat kupu-kupu tersebut.
Maka lelaki itu memutuskan untuk membantu si kupu-kupu. Dia mengambil gunting dan membuka lebar celah kepompong. Kupu-kupu kemudian muncul dengan mudah, meskipun memiliki tubuh bengkak dan sayap kecil yang layu..
Pria yang merasa telah berjasa membantu kupu-kupu tadi, merasa lega dan duduk memperhatikan. Ia menunggu sayap kupu-kupu mengembang dan membesar agar dapat membuat kupu-kupu bisa terbang. Tetapi itu tidak terjadi. Kupu-kupu itu menjadi cacat dan akhirnya menghabiskan sisa hidupnya tidak bisa terbang, merangkak dengan sayap kecil dan tubuh bengkak. 😢
Ternyata kebaikan hati sang pria, justru membuat si kupu-kupu tidak bisa memiliki sayap yang sempurna. Ia tidak mengerti bahwa kepompong yang membatasi dan perjuangan yang dibutuhkan oleh kupu-kupu untuk mengeluarkan dirinya melalui celah kecil, adalah cara Tuhan untuk memaksakan cairan dari tubuh kupu-kupu tersebut mengalir dan membentuk sayapnya.
Perjuangan keras kupu-kupu untuk keluar dari kepompong dengan susah payah, adalah cara Tuhan untuk mempersiapkan dirinya membentuk sayapnya yang kuat untuk terbang begitu sudah keluar dari kepompong. Tanpa perjuangan tersebut maka sayapnya yang kuat dan indah tidak akan terbentuk dengan sempurna. 🙏
Seperti kepompong tersebut, perjuangan kita dalam hidup adalah cara Tuhan mengembangkan kekuatan kita. Tanpa perjuangan, kita tidak akan pernah tumbuh dan tidak akan pernah menjadi lebih kuat. Sangatlah penting bagi kita untuk mengatasi tantangan kita sendiri tanpa mengeluh dan tidak mengandalkan bantuan dari orang lain. Itu yang selalu saya katakan pada diri saya. It works for me.
Tapi kondisi ini berbeda ketika saya menghadapi anak-anak saya… 😰
Saya justru merasa seperti si pria ini ketika menghadapi anak-anak saya. I make their life too easy sometimes. I thought I should help them anyway I could but then I might have spoiled them. Setiap upaya yang kami berikan untuk membuat hidup mereka mudah sejatinya membuat mereka kehilangan semangat juang. Saya melobangi kepompong mereka sedikit demi sedikit tanpa saya sadari. Mereka mungkin tidak akan pernah memiliki semangat juang yang pernah saya miliki karena saya dulu keluar dari kepompong saya sendiri.
Ini memang dilematis bagi sebagian orang tua. Di satu sisi mereka ingin agar anak-anak mereka memiliki semangat juang dan tekad yang kuat dalam menghadapi tantangan hidup dengan membiarkan mereka menghadapi berbagai kesulitan hidup dengan hidup kekurangan sebagaimana mereka dulu. Di sisi yang lain mereka merasa bersalah jika tidak memberikan segala fasilitas hidup dan kenyamanan yang selayaknya mereka peroleh atas karunia Tuhan yang mereka peroleh. Would you make it hard or easy…?!
Tentu saja saya tetap berharap suatu saat anak-anak saya akan menemukan perjuangan mereka sendiri dan mereka akan menghadapinya dengan penuh perjuangan untuk meraih sukses yang layak mereka peroleh. Apa yang bisa (dan harus) kami lakukan sebagai orang tuanya hanyalah duduk menunggu kupu-kupu itu keluar sendiri dari kepompongnya sambil berdoa agar kami orang tuanya diberi kesabaran menunggu ketentuan Tuhan pada anak-anak kami.
“Anakmu bukanlah anakmu…,” kata Khalil Gibran. 😎
“Husy…! Ojok sembarangan kon, Lil. Iki pancen anakku,” jawab saya membantah. 🙄
Surabaya, 30 Juni 2019.
Tulisan diatas menurut saya sedikit banyak mencerminkan diri kita sebagai orang tua. Pertanyaannya adalah apa yang kita harapkan dari anak-anak kita? Menjadi pribadi yang kuat dengan segala semangat juangnya atau malah sebaliknya?
Pertanyaan itu tentunya kembali kepada kepada kita untuk menjawabnya. Semua pilihan ada di tangan kita. Jadi tunggu apa lagi sobat. Ayo kita semua belajar dan berproses untuk menjadi orang tua yang selalu mendukung dan membimbing anak-anak kita, menjadi pribadi terbaik dengan semangat juang yang tak terkalahkan. Semoga mereka ini yang akan memajukan negara tercinta kita Indonesia.







