Hari kedua: Gili Trawangan

Pagi hari selesai sarapan di hotel, saya melanjutkan perjalanan menuju Gili Trawangan. Saya sudah booking hotel untuk 2 malam di sana. Awalnya saya berniat untuk menuju pelabuhan dengan menggunakan bus Damri. Tujuannya adalah menuju pasar Pemenang. Oleh karena itu saya memesan Go car menuju pool Damri. Tarif taxi dari hotel ke pool bus Rp. 22.000. Ternyata bus dengan tujuan itu, trayeknya dihentikan sejak pandemi. Akhirnya saya mau tidak mau harus naik taxi Blue Bird dengan argo tarifnya Rp. 130.000.
Jalan menuju Pelabuhan Bangsal tidak terlalu besar dan menanjak, hanya cukup untuk dua kendaraannya saja. Pemandangannya disepanjang jalan cantik memanjakan mata. Masih banyak pepohonan dan monyet-monyet yang berkumpul di kanan kiri jalan. Waktu yang ditempuh menuju Pelabuhan sekitar satu jam lebih.
Begitu turun dari taxi, saya langsung membeli tiket slow boat seharga Rp. 15.000,- Tidak menunggu lama, kapal sudah siap berangkat. Kapal akan berangkat jika kuota penumpang sudah terpenuhi. Biasanya menunggu sampai jumlah penumpangnya 35 orang. Jika ingin cepat, maka kita bisa menyewa speed boat yang tarifnya lumayan mahal.
Jangan lupa untuk membawa sendal jepit atau lepas sepatu sebelum naik ke kapal. Apabila menggunakan celana panjang, gulung dulu sampai lutut agar tidak basah terkena air laut. Berhubung tidak ada dermaga di tempat parkir kapal, maka kita langsung naik kapal dari pantai. Otomatis kaki kita akan terendam air laut.
Perjalanan ke Gilli Trawangan sangat menyenangkan. Melihat birunya langit dan laut, burung camar beterbangan, sesekali melihat ikan melompat disisi kapal, sangat menenangkan. Apalagi saya sudah lama tidak berlibur, melihat pemandangan yang berbeda memang bisa menghilangkan stress dan menghapus lelah selama perjalanan.
Diperlukan waktu kurang lebih 30 menit menuju Gili Trawangan. Di sana saya menginap di Balenta Bungalow yang terletak di pantai timur. Kondisi kamarnya lumayan bersih. Ukurannya juga cukup luas, karyawannya juga ramah. Sayangnya fasilitas dalam kamar benar-benar minimalis. Hanya disediakan handuk, fasilitas standar yang biasanya disediakan hotel sama sekali tidak ada. Tidak ada air hangat, sabun dan shampoo. Belum lagi wifi yang seharusnya bisa diakses ternyata tidak jalan. Tidak ada TV. Tetapi mungkin konsepnya seperti itu, outdoor life, jadi tidak masalah buat saya. Secara keseluruhan agak mengecewakan.

Memang rate saat itu lumayan rendah dibandingkan kondisi normal. Total menginap dua malam disana, saya hanya membayar Rp. 460.000,- Biaya hidup terutama di Gili lumayan mahal, terutama bagi wisatawan domestik dengan budget terbatas seperti saya ini. Berhubung pandemi, mereka tidak bisa jual mahal lagi. Jadi Alhamdulillah, saya bisa kesana tanpa harus membobol tabungan.
Saat berbincang dengan pegawai hotel, ia bercerita bahwa hotel baru beroperasi kembali di bulan Desember 2020, setelah 8 bulan tutup. Pegawai yang biasanya 16 orang, jadi hanya dua orang saja. Mungkin hal itu juga yang menyebabkan banyak fasilitas yang tertulis di booking.com tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Ia juga bercerita bahwa bulan Januari biasanya turis agak menurun sampai dengan bulan Maret. Setelah itu mulai ramai lagi.
Hanya saja pandemi memang merubah semuanya. Di masa pandemi Covid-19, karena adanya pembatasan bagi orang asing untuk datang ke Indonesia, Gili Trawangan sangat sepi dibandingkan hari-hari sebelum pandemi. Sisi positifnya bagi saya, dengan tidak banyaknya orang disana, saya bisa menikmati keindahan pulau dengan tenang.

Kegiatan di hari pertama tidak banyak. Saya hanya keluar membeli makan siang. Untuk nasi rames dengan dua macam sayur dan dua potong gorengan, saya harus membayar Rp.20.000,- Sedangkan air mineral 1,5 liter dibandrol seharga Rp. 10.000,- Berhubung lokasi terletak di pulau yang jauh dari daratan, saya bisa memakluminya. Semua bahan makanan harus dibawa dari Mataram, sehingga ongkos kirimnya lumayan tinggi. Harga-harga disana, terutama di kota di pinggiran pantai, umumnya sekitar 2 sampai 2,5 kali lipat harga di Mataram. Jadi saat mengunjungi Gili Trawangan jangan lupa untuk menyiapkan budget ekstra untuk makanan.

Sore hari, saya hanya berjalan-jalan dan duduk disekitar pantai, sambil melihat aktivitas orang-orang yang sedang menikmati laut. Ada yang snorkeling, bermain standing paddle, berenang, atau hanya foto-foto saja. Saat adzan magrib, saya kembali ke hotel dan beristirahat.
Pengeluaran di hari kedua:
Breakfast Buffet di hotel Rp. 50.000,-
Taxi menuju pool Damri Rp. 22.000,-
Taxi menuju Pelabuhan Bangsal + tip Rp. 150.000,-
Tiket slow boat Rp. 15.000,-
Makan siang Rp. 20.000,-
Air mineral Rp. 10.000,-
Biskuit Kabin Rp. 26.000,-
Hotel untuk 2 malam Rp. 460.000,-
Total Rp. 753.000,-
Hari Ketiga: Gili Trawangan
Setelah shalat Subuh, saya segera menuju pantai untuk menyaksikan matahari terbit. Matahari terbit di pantai timur terlihat sangat cantik. Setelah matahari mulai merangkak naik, saya melanjutkan perjalanan saya untuk berkeliling pulau.

Selain berjalan kaki, kendaraan yang popular di gili adalah cidomo dan sepeda. Motor dan mobil tidak diperbolehkan untuk digunakan di pulau. Seandainya ada yang menggunakan motor, mesin motornya sudah diganti menjadi motor listrik. Itupun jumlahnya tidak banyak. Jadi kalau dirasa capek berjalan kaki, kita bisa menyewa sepeda. Untuk sewa sepeda, dikenakan tarif Rp. 50 rb seharian. Sedangkan jika ingin menumpang cidomo biaya yang harus dikeluarkan Rp. 100rb. Tentunya tergantung kepandaian kita menawar.
Berhubung badan saya yang gemuk, saya memutuskan untuk berjalan, karena naik sepeda rasanya kurang nyaman. Sedangkan untuk naik cidomo koq rasanya eman. Lebih baik uangnya dipakai untuk hal lain. Lagi pula saya tidak diburu waktu. Jadi saya berjalan sekuatnya saja.
Sambil melangkah menyusuri jalan, saya merasakan semilir angin berhembus menyejukan tubuh. Debur ombak terdengar lirih di sepanjang pantai.
Pagi itu waktu masih menunjukkan jam 7 pagi. Udara terasa sejuk dan keadaan disekitar terasa damai. Tidak banyak orang lalu lalang. Hanya dua anak berseragam sekolah terlihat mengayuh sepedanya. Yang terlihat hanyalah pengelola dan pegawai penginapan menyapu jalan, serta para pemilik kios menyiapkan dagangannya.
Setelah sekitar setengah jam menyusuri jalan, saya bertemu seorang gadis kulit putih yang sedang memberi makan kucing-kucing liar. Ia sengaja bersepeda sembari membawa makanan kucing. Nampaknya ia seorangpecinta hewan.
Nelayan yang menjala ikan terlihat dikejauhan. Sepanjang perjalanan berkeliling pulau, tersaji pemandangan indah. Lukisan Tuhan yang dicoretkan dengan segala kecantikan yang mengagumkan setiap mata yang memandangnya. Betapa saya bersyukur lahir di Indonesia. Betapa saya bersyukur Tuhan memberikan negeri cantik dan subur bagi kami rakyat Indonesia.

Kaki saya terus berjalan menyusuri jalan. Sesekali saat kaki terasa lelah, saya berhenti dan duduk disisi pantai, sambil memandang laut luas yang terhampar dihadapan saya. Debur ombak dan semilir angin mengurangi rasa penat yang saya rasakan. Saat lelah hilang, saya mulai lagi melangkahkan kaki untuk melihat ada apa saja disekeliling pulau.
Keuntungan berjalan kaki mengelilingi pulau, kita bisa lebih fleksibel saat menghadapi medan yang agak sulit. Di ujung pantai timur menuju pantai utara, jalan yang dilalui agak terjal karena abrasi. Jalan kaki memungkinkan kita untuk melaluinya dengan lebih mudah. Seandainya sewa sepeda, mungkin saya akan balik arah. Sebetulnya ada alternatif lain, melewati perkampungan. Hanya saja saat saya tanyakan arah ke mba penjual kue yang datang dari arah perkampungan itu, ia menyarankan saya untuk ambil jalur pesisir pantai agar tidak tersesat.

Tak terasa lebih kurang satu jam berjalan kaki, sampailah saya di pantai barat. Pantai barat adalah pantai yang sering didatangi turis untuk melihat matahari terbenam. Di persimpangan, ada petunjuk jalan yang bertuliskan shortcut to town alias jalan pintas menuju kota. Berhubung kaki sudah lumayan cape dan mulai bengkak, saya putuskan untuk melalui jalan pintas tersebut. Dengan harapan saya bisa segera tiba di hotel. Ternyata jarak menuju hotel masih sekitar 2 km. Lumayan melelahkan. Tapi saya akhirnya tahu letak perkampungan penduduk lokal, penginapan, serta kontrakan yang terletak di sekitar sana.
Perkampungan yang saya lewati cukup sejuk, karena banyak pohon kelapa disekelilingnya. Yang juga membuat saya bersyukur, saya menemukan toko kelontong dan warung yang menjual makanan dengan harga terjangkau, tidak semahal toko-toko di kota yang terletak di sekitar pantai. Saya juga mengamati ternyata penduduk di Lombok relatif ramah. Mereka tidak segan untuk berbincang-bincang dengan kita. Jadi saya bisa dengan mudah mendapatkan informasi yang dibutuhkan dari mereka. Jadi memang segala sesuatu itu pasti ada hikmahnya. Meskipun kaki terasa cenat-cenut, tapi sepadan dengan pemandangan dan pengalaman baru yang saya alami.
Sejak pandemi, saya tidak pernah berolahraga. Saya hanya bersih-bersih di sekitar rumah saja. Kegiatan jalan pagi yang kadang saya lakukan, sudah saya tinggalkan. Enggan rasanya mulai untuk olahraga keluar rumah. Traveling ke Lombok kali ini, memaksa saya untuk mulai berjalan lagi. Tubuh yang tidak terlatih, benar-benar menjadi hambatan, rasanya kaku dan berat sekali untuk mengangkat tubuh. Apalagi dengan berat badan yang sudah masuk kategori obesitas.
Setelah berjalan lumayan jauh, di sekitar pantai utara saya membeli nasi bungkus untuk makan siang dari ibu penjual makanan. Ia menjual nasi rames, sebungkus harganya Rp. 10.000,-. Sedangkan untuk sarapan, saya membeli risoles dari mba pedagang kue yang menjajakan kue dengan sepedanya, Rp. 5.000,- untuk tiga potong risoles. Lumayan murah, dibandingkan dengan makanan yang dijual disepanjang pantai. Rasanya juga enak. Sempat nyesal kenapa tidak beli lebih banyak😊.
Lelah mengelilingi pulau, sisa hari saya habiskan disekitar penginapan saja. Melihat matahari terbenam di pantai. Perjalanan mengitari Gili Trawangan lumayan memaksa tubuh manja saya untuk bergerak. Efeknya terasa saat saya tiba di hotel. Pergelangan kaki terasa sakit. Belum lagi kaki bengkak, bahkan sampai keesokan harinya. Tapi semua lelah itu terbayar dengan melihat pemandangan yang sangat cantik.
Pengeluaran di hari ke 3:
Makan dan minum dan snack Rp. 40.000,-







