Lombok, I Am Coming Part 4

Pantai Senggigi

Hari Keempat : Menuju Senggigi

Pagi ini, seperti biasa selesai solat subuh, saya menuju pantai untuk melihat matahari terbit. Berhubung ini hari terakhir di Gili Trawangan, saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang tersisa.

Pagi terasa sejuk, karena sore kemarin turun hujan. Alhamdulillah udara lumayan cerah, semburat matahari terlihat cantik dan sinar hangatnya menerpa tubuh. Saya duduk di pantai dan menikmati pemandangan cantik yang tidak puasnya saya pandangi. Seperti kemarin, pagi terasa damai. Masih tidak banyak orang yang berkegiatan di pantai. Hanya pegawai hotel yang menyapu halaman dan jalan disekitar hotel mereka, sementara itu di arah sebelah barat, dua lelaki sedang membuat kapal. Begitu indahnya anugerah Tuhan, semua pemandangan yang tersaji didepan mata, benar-benar sebuah lukisan sempurna.

Banyak kursi dan bangku-bangku dipinggir pantai disediakan untuk tamu oleh hotel-hotel yang berderet di sepanjang pantai. Pagi hari biasanya pedagang makanan berkeliling menjajakan makanan. Saya bertemu lagi dengan ibu yang kemarin menjual risoles. Hari itu ia menjual pisang goreng. Ternyata dagangan yang ia jajakan bervariasi setiap harinya. Langganannya adalah para pegawai hotel, juga pekerja dan perajin perahu yang ada disana. Harga yang terjangkau dan rasanya yang lumayan enak jadi hal yang mendorong kami untuk membelinya. Benar-benar murah meriah.

Setelah matahari mulai tinggi, saya kembali ke hotel untuk bersiap menuju tujuan berikutnya, yaitu pantai Senggigi. Selesai bersiap dan makan pagi di hotel, sekitar jam 10.00 WIT saya menuju pelabuhan. Kebetulan saat berjalan menuju pelabuhan ada cidomo yang melintas. Akhirnya saya menumpang cidomo untuk menghemat tenaga dengan ongkos Rp. 20.000,- . Jangan lupa untuk menawar, karena awalnya ia menawarkan harga Rp. 50.000,-.

Pelabuhan Gili Trawangan

Di pelabuhan sudah banyak calon penumpang yang menunggu. Tiga puluh menit kemudian ketika penumpang sudah memenuhi kuota, slow boat pun segera berangkat. Harga tiket menuju pelabuhan bangsal Rp. 15.000,-.  Meskipun waktu yang ditempuh tidak terlalu lama, kapal yang melawan arus ombak, membuat perjalanan tidak nyaman. Saya sempat khawatir bakal mabuk laut dengan kondisi seperti itu. Ternyata perkiraan saya tidak salah. Keringat dingin mulai mengalir deras. Kepala terasa pusing dan perut mulai terasa seperti dikocok-kocok.  Alhamdulillah saya tidak mabuk laut parah.

Setibanya di pelabuhan Bangsal, sudah banyak supir taksi dan ojeg yang menawarkan jasanya. Dari hasil riset, saya mendapatkan info tarif taxi menuju Senggigi Rp. 100.000,- dan tarif ojeg Rp. 50.000,-. Jika kita ingin menumpang taksi Blue Bird, maka kita harus berjalan sekitar 100 meter keluar pelabuhan. Karena saya lumayan mabok laut dan ransel saya terasa berat, saya memilih untuk menggunakan taksi. Awalnya saya berencana untuk menggunakan taksi Blue Bird, tapi akhirnya berubah pikiran karena kaki saya mulai bengkak. Kebetulan 20 meter dari pintu pelabuhan ada seorang bapak yang menawarkan jasa untuk mengantarkan saya ketujuan, Ia menawarkan Rp. 100.000,- menuju Senggigi, setelah saya tawar, ia  memberi harga Rp. 80.000,-.

Perjalanan dari pelabuhan Bangsal menuju Senggigi sangat cantik. Jalannya lumayan berliku, dan  sangat mulus. Pemandangannya betul-betul worth a million dollar kalau kata bule. Di sebelah kanan jalan, sejauh mata memandang terhampar laut biru yang sangat memukau. Sayangnya mabok laut saya belum reda, jadi saya tidak bisa benar-benar menikmatinya.

Alhamdulillah supir taxi yang bernama pak Bambang ramah dan sangat membantu. Jadi selama perjalanan kami berbincang mengenai banyak hal. Sehingga perjalanan selama 40 menit berlalu tanpa terasa. Sempat ia salah jalan, saat mengikuti GPS. Hotel tempat saya menginap memang tidak terletak di pinggir jalan besar, melainkan masuk ke daerah perkampungan. Meskipun begitu hotel ini sangat nyaman dan tidak jauh dari pantai dan tempat makan.

Cozy Cottages Lombok menjadi pilihan saya saat saya berlibur di Senggigi. Seperti biasa, saya memesan melalui Booking.com. Saya hanya memilih berdasarkan foto dan testimoni yang ada. Alhamdulillah pilihan saya kali ini tidak meleset. Untuk biaya menginap satu malam termasuk makan pagi, saya membayar Rp. 340.000,-. Hotel ini memang cozy sesuai namanya. Meskipun hanya terdiri dari 6 kamar, hotel ditata dengan cantik dengan gaya tropis. Kamarnya juga lumayan luas.

Siang itu, saya tidak kemana-mana. Kebetulan ada webinar yang harus saya hadiri, jadi seharian saya istirahat di hotel. Sore hari setelah cukup beristirahat, saya keluar untuk membeli makan malam. Ternyata tidak jauh dari hotel ada warung yang menjual nasi rames. Indomie goreng, teh tawar dan kerupuk jadi menu saya sore itu. Harganya sangat terjangkau. Saya hanya perlu membayar Rp. 7.000,- saja. Sesudah perut terisi kenyang, saya kembali ke hotel dan menikmati mandi air hangat, dan melanjutkan perjalanan ke pulau kapuk.

Pengeluaran hari keempat :

  1. Pisang goreng dan aqua                Rp.     5.000,-
  2. Cidomo                                                Rp.   20.000,-
  3. Slow boat                                            Rp.   15.000,-
  4. Taxi                                                      Rp. 100.000,-
  5. Indomie goreng                                Rp.     7.000,-
  6. Hotel                                                    Rp. 340.000,-

Total Pengeluaran Rp. 487.000,-

Hari Kelima : Kembali ke Depok

Berlibur bagi saya adalah waktu untuk menikmati pemandangan, budaya, dan lingkungan di tempat yang dikunjungi. Dulu shopping juga menjadi hal wajib setiap pergi berjalan-jalan. Tapi sekarang shopping sudah bukan menjadi tujuan utama lagi. Bertambahnya umur membuat prioritas berubah.

Biasanya pagi hari saya sekeluarga, sudah bersiap-siap untuk menuju tempat-tempat menarik di tempat liburan tersebut. Ayah saya sering berkata, “Kalau mau tidur di rumah aja, sayang piknik koq cuma dipakai buat tidur”.  Berhubung liburan ke Lombok saya pergi sendirian, maka saya jadi lebih santai menjalaninya. Saya tidak terlalu memaksakan diri untuk mengunjungi tempat wisata. Jika dirasa lelah, saya lebih memilih untuk menikmati istirahat di hotel. Jadi hotel yang nyaman dan memenuhi standar minimal wajib hukumnya. Alhamdulillah Cozy Cottage Lombok nyaman untuk beristirahat dan mengumpulkan kembali tenaga dan bisa beraktivitas kembali keesokan harinya.

Pagi hari, saya menuju pantai di sekitar hotel. Hotel terletak tidak jauh dari pantai Klui. Jarak dari hotel ke pantai sekitar 500m menuju pantai. Tidak terlalu jauh.

Pantai Klui Senggigi

Sebetulnya sunset di pantai Klui terlihat jelas, menurut mas petugas hotel yang ngobrol saat kami makan di warteg dekat hotel. Tapi berhubung sudah lelah, saya memutuskan untuk pergi ke pantai di pagi hari saja.

Pantai Klui lumayan cantik. Perbedaannya dengan pantai di Gili Trawangan adalah warna pasirnya yang bukan pasir putih. Suasana di pantai masih sepi. Hanya beberapa orang saja yang saya lihat duduk-duduk di pinggir pantai. Ada warung-warung disekitar pantai. Jalan masuk ke pantai melewati deretan pohon kelapa, perahu nelayan juga berjejer di sepanjang pantai.

Pandemi membuat banyak tempat pariwisata menjadi sepi pengunjung. Kasihan orang-orang yang mencari penghasilan dari sektor ini. Bagi turis yang senang dengan suasana tenang, sepinya kawasan wisata itu bisa membuat mereka menikmati alam dalam keheningan. Tidak terdengar suara selain suara deburan ombak, dan burung yang terbang di sekitar pantai. Benar-benar sunyi dan tenang.

Setelah satu jam duduk di pantai, saya kembali ke hotel untuk makan pagi dan bersiap menuju bandara. Meskipun jadwal penerbangan saya baru sekitar jam satu siang, saya harus berangkat ke bandara lebih awal untuk melakukan rapid test antigen di bandara Lombok Praya.

Transportasi dari Mangsit Senggigi lokasi tempat hotel saya menginap menuju bandara, bisa menggunakan taksi atau Bus Damri. Untuk mencapai pool Damri, bisa menggunakan ojek dan tarif bus dari Senggigi menuju bandara Rp. 40.000,-. Hari itu saya memilih menggunakan taksi milik pak Bambang yang sudah saya pesan sebelumnya. Tarifnya Rp. 200.000,-

Di Bandara saya diantarkan ke tempat test rapid dilaksanakan, biaya rapid test antigen bagi penumpang pesawat Rp. 170.000,-. Tidak terlalu banyak penumpang yang melakukan test, jadi saya hanya perlu menunggu 30 menit, dan hasil testnya sudah bisa saya terima.

Langkah berikutnya adalah membawa surat keterangan tersebut untuk divalidasi terlebih dahulu, baru setelah itu kita bisa melakukan proses check in. Alhamdulillah pesawat take off tepat waktu. Sekitar jam 17.00 saya sudah menunggu bus Hiba yang akan membawa saya menuju Depok. Bus baru datang menjelang magrib. Berhubung hari kerja, maka perjalanan menuju Depok relatif macet. Jam 20.00 saya tiba di rumah. Alhamdulillah setelah lima hari melakukan perjalanan ke Lombok, saya tiba kembali dengan selamat di rumah, beristirahat dulu beberapa hari sebelum perjalanan ke Bali bersama si Boss.

Pengeluaran hari kelima:

  1. Snack dan aqua di Indomaret     Rp.   50.000,-
  2. Taxi, parkir dan tip                           Rp. 250.000,-
  3. Antigen                                                Rp. 170.000,-
  4. Kopi dan roti di bandara                Rp.   38.000,-
  5. Bus Damri                                           Rp.   60.000,-
  6. Taxi dan tip menuju rumah          Rp.   25.000,-

Total                      Rp. 593.000,-

Total pengeluaran traveling ke Lombok belum termasuk tiket pesawat sebesar Rp. 2.415.000,-. Pengeluaran terbesar untuk perjalanan ini digunakan untuk hotel dan transportasi.

Selama pandemi di bulan Januari, sebetulnya tarif hotel lumayan hemat. Sayangnya di Lombok, fasilitas kendaraan umum sangat terbatas. Sehingga mau tidak mau kadang kita harus memilih untuk menggunakan taxi atau jika ingin lebih hemat bisa menggunakan ojek. Akan lebih hemat lagi jika kita melakukan perjalanan dengan teman atau keluarga. Biaya transportasi, makan dan hotel bisa kita bagi rata.

Meskipun rencana berhemat tidak bisa seluruhnya terlaksana, tapi saya benar-benar menikmati solo traveling saya ke Lombok.

Sampai jumpa lagi di artikel traveling saya selanjutnya. Salam bahagia.