Orangtua saya adalah penggemar traveling. Tidak heran sejak kecil saya sering diajak oleh beliau berdua untuk melakukan perjalanan. Awalnya hanya menjelajah kota-kota terdekat. Seiring waktu, acara traveling ini jaraknya jadi semakin jauh. Mulai antar kota, antar pulau dan akhirnya antar negara. Tentunya disesuaikan dengan dana dan waktu yg dimiliki.
Meskipun demikian, hobi traveling hanya dilakukan saat kami punya budget ekstra. Jadi sebelum traveling, menabung wajib hukumnya di keluarga kami. Jangan sampai pulang traveling, kami harus membobol tabungan bahkan berhutang karena kehabisan uang. Kami tidak mau hobi jalan yang seharusnya menyenangkan dan menghibur, malah jadi hal yang merepotkan.
Ada banyak hal yang dialami saat melakukan perjalanan bareng keluarga. Apalagi dengan budget terbatas. Kemampuan untuk mensiasati dana yang terbatas dan tetap bisa menikmati liburan dengan nyaman, jadi faktor utama yang harus dimiliki.
Ada beberapa hal yang biasanya kami lakukan sebelum pergi berlibur. Mulai dari menyiapkan dana traveling, menentukan destinasi wisata yang akan kami tuju, transportasi yang akan digunakan dan akomodasi yang akan kami pilih.
Untuk masalah konsumsi tidak terlalu masalah. Ayah saya biasanya akan memilih restoran atau warung yang banyak pengunjungnya. berdasarkan pengalaman beliau, biasanya tempat makan yang ramai pengunjungnya, rasanya enak dan harganya terjangkau. Dan memang apa yang beliau katakan terbukti.
Hobi traveling ini akhirnya jadi seperti DNA di keluarga kami. Hobi yang ditularkan orangtua saya, akhirnya menular juga pada anak saya. Kami sama-sama suka menjelajah sudut-sudut kota yang kami datangi.
Banyak pengalaman yang kadang membuat tersenyum. Mulai dari suka duka mencari penginapan, transportasi, kejadian-kejadian lucu karena ketidaktahuan kami ditempat yang dikunjungi, kesalahan yang kami lakukan yang berakibat kami harus mengeluarkan dana ekstra, dan pengalaman lainnya.
Semua peristiwa yang terjadi selama traveling, membuat kami tidak bosan utk melakukan kegiatan yang satu ini. Apalagi jika kami bisa mendapatkan harga tiket promo yang bersahabat dengan kantong kami.
Orang bijak mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman membantu saya lebih berhati-hati dalam merancang persiapan traveling yang akan dilakukan, agar kesalahan yang pernah terjadi tidak terulang. Meskipun terkadang, tetap saja ada hal-hal di luar dugaan yang terjadi. Saya anggap itu semua suka dukanya. Enjoy saja, dan yakini bahwa semua yang dialami akan memperkaya wawasan kita.
Setelah delapan bulan berdiam diri dan bekerja dari rumah, saya sangat gembira saat mendengar bahwa kurva penularan Covid-19 sudah melandai di bulan November 2020. Dengan harapan tahun 2021 masyarakat sudah bisa beraktivitas kembali dengan adanya vaksin, maka ketika ada penawaran annual pass dari Airasia saya tidak menyia-nyiakannya. Kebetulan bulan Januari 2021 anak saya liburan kuliah.
Ternyata kenyataan berkata lain. Libur Natal dan kondisi kerumunan yang terjadi di akhir tahun 2020 membuat kurva penularan Covid-19 meningkat kembali.
Kurva yang meningkat sempat bikin galau. Disatu sisi khawatir dengan kasus penularan yang bertambah lagi, tapi disisi lain juga sayang kalau sampai batal berangkat, karena annual pass yang sudah dibeli akan hangus.
Akhirnya setelah menghitung segala resikonya, kami memutuskan untuk tetap berangkat, dengan catatan harus melakukan protokol kesehatan semaksimal mungkin.
Di postingan ini, saya membagikan sedikit tips dan trik traveling agar perjalanan wisata bisa berjalan sesuai rencana. Terutama jika melakukan traveling di masa pandemi. Apakah saja tips dan triknya? Jawabannya dijelaskan dibawah ini:
1. Menentukan Destinasi Wisata

Ketika kita memutuskan untuk berlibur, tentunya hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan destinasi wisata. Destinasi wisata ini akan berpengaruh pada persiapan-persiapan lainnya. Mulai dari tiket, jenis pakaian yang akan dibawa dan tentunya juga budget yang harus disiapkan. Apalagi jika kita ingin mengunjungi beberapa kota sekaligus saat traveling.
Cari dan tentukan destinasi wisata yang memiliki jalur searah, sehingga traveling yang dilakukan akan lebih efisien dan efektif. Misalnya saja traveling dengan arah Yogyakarta, Bali dan Lombok lebih menghemat tenaga dan biaya, dibandingkan jika kita melakukan perjalanan mulai dari Lombok, Yogyakarta dan Bali.
Perhitungkan juga kondisi fisik kita. Jangan sampai saat badan sudah lelah, masih banyak tempat yang ingin dikunjungi.
Pilih untuk melakukan kegiatan yang memakan waktu dan membutuhkan kondisi prima diawal waktu liburan. Saat kondisi fisik sudah mulai lelah, maka kegiatan yang tidak terlalu melelahkan bisa jadi pilihan. Misalnya saja melakukan wisata kuliner atau mengunjungi kawasan wisata yang berdekatan jaraknya atau berada di dalam kota.
2. Riset Keistimewaan Kota yang Akan Dikunjungi

Melakukan riset atau mencari tahu mengenai kota yang akan dikunjungi, menjadi keharusan jika kita ingin perjalanan yang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana.
Riset hal-hal menarik di kota tujuan. Baik itu budaya yang berlaku, tempat-tempat menarik seperti museum, kebun binatang, taman bunga, kegiatan budaya, maupun tempat wisata kuliner khas dari daerah tersebut.
Kemudian tentukan tempat yang akan dikunjungi dan sesuaikan dengan waktu serta budget yang dimiliki.
3. Memesan Tiket Transportasi
Tiket transportasi adalah hal utama dalam setiap perjalanan yang akan dilakukan, kecuali jika kita menggunakan kendaraan pribadi. Ada berbagai jenis transportasi yang bisa dipilih sesuai kebutuhan.
Untuk perjalanan dengan waktu terbatas, saya sarankan menggunakan pesawat terbang. Tapi jika memiliki waktu yang lebih panjang dan ingin menikmati perjalanan serta pemandangan di sepanjang jalan, maka kendaraan pribadi, kereta api dan kendaraan darat seperti bus bisa menjadi pilihan.
Apabila ingin merasakan suasana berbeda saat bepergian ke pulau atau negara lain, jalur laut bisa digunakan. Ada kesenangan tersendiri saat melihat lumba-lumba melompat-lompat didepan kapal yang kita tumpangi. Jadi semua kembali ke preferensi masing-masing.
Tiket pesawat terbang, kereta api dan kapal laut, bisa dipesan jauh hari sebelum hari liburan. Biasanya untuk kereta api, kita bisa memesan tiga bulan sebelumnya. Sedangkan untuk pesawat terbang, bisa dipesan enam bulan sebelumnya, bahkan lebih.
Meskipun begitu menurut Liana Corwin selaku consumer travel expert dari Hopper, tiket pesawat sebaiknya dipesan tiga bulan atau satu bulan sebelum keberangkatan tergantung destinasi wisata yang akan kita lakukan.
Tidak ada ruginya jika Anda berlangganan newsletter dari maskapai penerbangan. Biasanya mereka akan memberitahukan jika ada promo-promo menarik bagi para anggotanya. Yang penting jangan lupa untuk selalu memeriksa syarat dan ketentuan yang berlaku. Karena pada umumnya tiket promo tidak dapat dijadwal ulang ataupun direfund.
Sekarang ini banyak kemudahan yang diberikan teknologi. Kita bisa mencari, membandingkan, dan memilih maskapai penerbangan melalui aplikasi seperti traveloka, pegi-pegi, maupun tiket.com. Jadi lakukan riset, dan pilih sesuai yang diinginkan. Tiket kapal laut juga sudah bisa dibeli secara online melalui aplikasi Ferizy.
4. Memilih dan Memesan Hotel Untuk Tempat Menginap
Hotel bisa dipilih sesuai budget yang dimiliki. Jika tidak musim liburan, sebetulnya kita bisa langsung datang ke hotel tanpa perlu booking terlebih dahulu. Apalagi disaat pandemi Covid-19. Banyak hotel yang kosong, sehingga booking tidak diperlukan. Tapi hal ini jangan coba-coba dilakukan saat musim liburan. Bisa-bisa kita repot karena harus berkeliling mencari hotel yang tidak full booked. Selain itu, jika kita booking terlebih dahulu maka rate harga hotel biasanya akan lebih murah. Apalagi jika kita punya keanggotaan disalah satu aplikasi tersebut. Contohnya saya jadi anggota genius di booking.com. Seringkali saya mendapatkan harga khusus karena keanggotaan tersebut.
Sama dengan tiket pesawat, kereta api, dan lainnya, aplikasi traveloka, tiket.com, booking.com, agoda, maupun pegipegi bisa menjadi pilihan untuk memilih hotel yang sesuai. Untuk hotel, saya sering menggunakan booking.com, karena aplikasi ini menyediakan opsi free cancelation, sehingga lebih fleksibel. Selama pembatalan dilakukan direntang waktu yang diberikan, maka tidak ada biaya yang harus dibayarkan.
5. Persiapkan Semua Dokumen yang Diperlukan
Dalam setiap perjalanan, ada sejumlah dokumen yang harus disiapkan. Selain tiket tentunya tanda pengenal diri seperti KTP untuk perjalanan domestik, dan passport untuk perjalanan mancanegara menjadi keharusan. Ada tambahan lain yang harus disiapkan saat melakukan perjalanan di masa pandemi Covid-19. Menyiapkan surat keterangan bebas Covid-19.
Mulai tanggal 9 Januari 2021 sampai dengan tanggal 25 Januari 2021, untuk perjalanan domestik, pemerintah memberlakukan aturan agar setiappenumpang khususnya pesawat terbang harus melakukan rapid test antigen atau swab test PCR. Peraturan ini masih berlaku sampai hari ini tanggal 30 Januari 2021 saat artikel ini ditulis. Maskapai Airasia yang saya tumpangi mengirimkan email imbauan penting yang berisi informasi tentang hal ini seperti tertulis dibawah ini:
- Bagi penumpang dengan tujuan Bali harus menunjukkan surat keterangan hasil non reaktif/negatif:
- Rapid test antigen yang berlaku paling lama 1 (satu) x 24 jam sebelum keberangkatan; ATAU
- PCR test yang berlaku paling lama 2 (dua) x 24 jam sebelum keberangkatan
- Ke Pontianak harus menunjukkan surat keterangan hasil negative uji swab berbasis PCR yang berlaku 3 (tiga) x 24 jam sebelum keberangkatan.
- Dari dan menuju ke kota-kota di pulau jawa, serta ke kota-kota lainnya menunjukkan surat keterangan hasil non reaktif/negatif:
- Rapid test antigen yang berlaku paling lama 2 (dua) x 24 jam sebelum keberangkatan; ATAU
- PCR test yang berlaku paling lama 3 (tiga) x 24 jam sebelum keberangkatan.
- Saat tiba di bandara tujuan, maka setiap penumpang diminta untuk menunjukkan kartu kewaspadaan kesehatan elektronik (e-HAC) yang dapat diakses melalui aplikasi seluler e-HAC Indonesia, atau bisa juga mengisi formulir secara manual.
- Anak-anak umur 12 tahun ke bawah tidak diwajibkan untuk menunjukkan hasil rapid test antigen atau PCR test.
Biaya yang harus dikeluarkan untuk rapid test antigen ini berkisar antara Rp. 95.000,- sampai dengan Rp. 250.000,- tergantung dimana kita melakukan test. Sedangkan untuk swab test PCR dikenai biaya antara 700.000 s.d. Rp. 800.000,-
Berhubung saya menggunakan Airasia, maka saya mendapatkan harga khusus Rp. 95.000,-untuk test antigen di RS. Harapan Sehati di Bojong Gede. Tarif normal yang mereka kenakan disana Rp. 150.000,-. Sedangkan dari Lombok dan Bali, kami melakukan test antigen di bandara, dan dikenakan biaya Rp. 170.000,- dengan syarat memperlihatkan tiket keberangkatan dari maskapai yang kami gunakan. Dari hasil browsing, bandara Djuanda juga mengenakan tarif yang sama untuk rapid test antigen. Jadi untuk perjalanan di masa pandemi, ada biaya ektra untuk rapid test atau PCR yang harus disiapkan.
6. Bawa Busana yang Sesuai
Busana merupakan hal lain yang harus disiapkan dan disesuaikan dengan destinasi wisata. Jangan sampai kita saltum alias salah kostum. Untuk berlibur ke daerah pantai, pakaian yang ringan dan berwarna terang serta berbahan dasar alami seperti katun, bisa menjadi pilihan. Siapkan pula sandal untuk berjalan-jalan ke pantai. Jika berencana untuk melakukan aktivitas bahari, siapkan pakaian renang dan segala pernak-perniknya. Kacamata hitam jadi asesoris wajib jika kita pergi ke pantai. Sebaliknya jika kita bepergian ke daerah pegunungan, maka jangan lupa untuk mempersiapkan pakaian yang tebal dan bisa menghangatkan tubuh.
Disarankan agar kita memeriksa suhu dan cuaca di lokasi wisata yang dituju. Meskipun begitu, tetap siapkan pakaian cadangan kalau-kalau kondisi cuaca berubah mendadak. Misalnya saja tetap membawa jaket tipis saat liburan ke pantai.
Jika kita memiliki rencana untuk menghadiri acara formal atau berencana untuk makan di tempat yang mengharuskan kita berbusana formal, maka siapkan baju yang sesuai dengan acara yang akan dihadiri.
7. Cek Perlengkapan dan Seluruh Barang yang Akan Dibawa
Sebelum bepergian, siapkan daftar barang yang akan dibawa selama traveling. Kemudian siapkan dan cek kelengkapannya. Mulai dari pakaian, obat-obatan, perlengkapan gadget, dan keperluan personal lainnya.
Jika memungkinkan untuk mencuci pakaian ditempat tujuan, maka kita bisa mengurangi jumlah pakaian yang akan dibawa. Semakin ringkas bawaan kita, maka semakin baik. Terutama jika kita menggunakan pesawat terbang sebagai alat transportasi. Proses perjalanan bisa lebih efisien apabila hanya membawa koper ke kabin. Tidak ada waktu yang terbuang untuk menunggu bagasi yang kadang memakan waktu berjam-jam.
8. Lakukan Protokol Kesehatan Covid-19
Pandemi Covid-19 merubah gaya hidup kita. Gaya hidup baru ini disebut kenormalan baru. Ada beberapa hal yang mau tidak mau harus menjadi kebiasaan baru. Diawali dengan sebutan 3M, dan sekarang menjadi 5M. Sering mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer, memakai masker dan menjaga jarak. Belakangan ini ditambahkan dengan membatasi mobilitas dan menjauhi kerumunan.
Saat traveling mau tidak mau mobilitas kita akan meningkat. Agar kegiatan yang kita lakukan tetap aman, maka protokol kesehatan harus selalu dilaksanakan, jangan sampai kendor.
Jika memungkinkan selalu hindari kerumunan dan menjaga jarak, selain tentunya selalu mencuci tangan dan memakai masker. Selalu sediakan masker cadangan di tas kita. Masker sebaiknya diganti setiap empat jam sekali. Sehingga bisa efektif melindungi kita.
Melakukan perjalanan di masa pandemi memang agak sedikit merepotkan dan membutuhkan budget ekstra untuk melakukan test antigen atau PCR. Belum lagi kita harus teliti memeriksa jadwal bus bandara, bus dalam kota, yang mungkin jadwal atau trayeknya berubah karena pandemi.
Meskipun begitu, ada biaya-biaya lain yang bisa kita hemat. Diantaranya adalah biaya transportasi dan akomodasi. Karena tidak banyak pengunjung, maka hotel-hotel banyak yang memberikan diskon, demikian juga dengan maskapai penerbangan. Belum lagi, tempat-tempat yang biasanya penuh orang, sekarang lumayan lengang. Jadi kita bisa menikmati tempat wisata dengan lebih leluasa. Pada akhirnya semuanya kembali pada kemampuan kita mensiasati budget dan situasi yang ada.
Jadi jika sudah terlanjur mempersiapkan liburan di masa pandemi seperti yang terjadi pada kasus saya, jalani dan nikmati saja. Tidak perlu terlalu khawatir selama kita menjalankan protokol kesehatan secara maksimal. Karena saya percaya, selama kita berusaha maksimal, maka hasilnya sesuai dengan usaha yang kita lakukan. Sisanya kita serahkan pada Yang Maha Kuasa.
Meskipun kita memiliki rencana selama liburan, usahakan untuk tidak terlalu memaksakan diri melaksanakan semua jadwal yang telah kita buat. Jika memang harus melakukan penyesuaian, maka dinikmati saja. Liburan harus dimaknai sebagai kegiatan yang menyenangkan. Sehingga apapun yang terjadi, jadikan sebagai pengalaman yang menyenangkan.
Jangan pernah lupa untuk selalu bahagia dalam setiap kegiatan dan aktivitas yang kita lakukan, karena bahagia akan meningkatkan imunitas kita. Bahagia itu tidak mahal, karena bahagia datang dari hati dan pikiran kita.







