Teman-teman mungkin sudah sering mendengar kata ini. Zero waste lifestyle adalah gaya hidup mengurangi sampah yang mencemari bumi. Gaya hidup ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Hanya saja yang mempopularkan kembali pada tahun 2010 dengan istilah zero waste lifestyle, adalah Bea Johnson di blognya Zero Waste Home. Hal lain yang sekarang juga popular dilakukan adalah mason jar challenge.Tantangan ini digagas oleh Lauren Singer, di blog miliknya Trash is for Tossers. Singer menantang pembaca blog-nya untuk mengurangi sampah hanya sebanyak satu toples saja.
Gaya hidup zero waste muncul karena keprihatinan masyarakat atas bertimbunnya sampah plastik di bumi kita. Sampah plastik di Indonesia pada tahun 2020 ini saja, sudah mencapai jumlah 67.8 juta ton. Dr. Costas Velis dari Universitas Leeds mengkaji bahwa pada tahun 2040 akan ada 1,3 miliar ton sampah plastik di bumi.
Sampah plastik sulit dicerna bumi, sehingga sudah pasti memberi efek negatif untuk manusia dan seluruh makhluk hidup di bumi ini. Meskipun pandemi covid-19 membuat kita kembali menggunakan plastik untuk mencegah kontaminasi, tidak berarti kita lupa untuk tetap membantu menyelamatkan bumi kita. Kegiatan mengurangi sampah harus tetap kita lakukan.
Gerakan mengurangi sampah bisa di mulai dari diri kita sendiri. Tidak usah yang rumit-rumit. Kita bisa mulai dengan menggantikan kantong plastik dengan kantong yang bisa kita gunakan berulang-ulang. Bisa terbuat dari kain, atau dari bahan lainnya. Syukur-syukur kalau kita bisa membuat sendiri dari bahan bekas sprei, gorden, atau baju.
Saat jajan atau menyimpan makanan dan sejenisnya, kita bisa menggunakan rantang, kotak bekal, tupperware, atau tempat lainnya. Jangan malahan tupperware yang kita miliki hanya kita simpan dilemari karena kita sayang memakainya. Ketika membeli kopi di kafe, bawa tumbler atau cangkir sendiri. Air minum juga bisa bekal dari rumah. Pastinya akan lebih hemat, karena kita tidak perlu beli air kemasan. Jangan lupa sendok, garpu, bahkan sedotan aluminium, kaca, atau bambu, bisa kita bawa juga dari rumah. Kita juga bisa mengurangi pemakaian tissue dengan menggunakan lap dan sapu tangan. Kalau sekiranya ada toko grosir yang menjual bahan makanan yang belum dikemas, kita bisa bawa toples sendiri. Bagi sobat yang tinggal di Bandung, dulu selai merk Nine bisa kita beli di pabriknya. Mungkin ada produsen makanan lain yang menyediakan opsi ini.
Selain makanan dan sejenisnya, kita juga bisa mengurangi penggunaan asesoris sekali pakai. Di saat pandemi covid-19, ada satu asesoris wajib yang harus kita pakai. Masker adalah salah satu asesoris yang mau tidak mau harus kita pakai untuk mencegah terjadinya infeksi covid-19. Diawal pandemi, harga surgery mask yang biasanya murah, tiba-tiba melambung tinggi harganya karena meningkatnya permintaan pasar. Selain harganya menjadi mahal, masker itu hanya bisa digunakan sekali pakai, tidak bisa digunakan berulang-ulang.
Alhamdulillah penelitian terakhir menemukan bahwa masker kain tiga lapis, memiliki efektivitas sampai dengan 70% untuk mengurangi penularan covid-19. Maka untuk mengurangi sampah, kita sebaiknya menggunakan masker kain. Selain lebih murah karena bisa kita gunakan berulang-ulang, masker kain pun lebih cantik dan bisa disesuaikan dengan baju yang kita pakai. Tentunya kita juga bisa membuat sendiri dari kain perca, maupun bekas baju atau sprei yang sudah tidak kita gunakan lagi.
Gerakan zero waste ini pada awalnya akan sedikit merepotkan. Tidak mudah melakukan kebiasaan baru. Namun jika kita melakukannya secara konsisten, maka akan terbentuk kebiasaan baru dan semuanya akan terasa lebih mudah. Dengan begitu, kita bisa membantu bumi ini lebih bersih dari sampah plastik.
Hal lain yang bisa kita lakukan adalah mulai memanfaatkan barang yang kita miliki semaksimal mungkin dengan reduce, reuse, recycle (mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang). Sebisa mungkin kita tidak usah membeli barang baru. Sebelum memutuskan membeli sesuatu yang baru, coba dulu cek di lemari kita, lemari orangtua, nenek, atau tante, saudara kita, bahkan cek ke teman atau thrift shop a.k.a toko loak. Seringkali kita menemukan harta karun lho. Sistem barter juga bisa diterapkan.
Insya Allah kontribusi kecil kita ini bisa bermanfaat untuk dunia yang lebih baik. Saya sendiri berusaha untuk selalu membawa misting (kotak bekal), sendok garpu sumpit, sedotan, tumbler, botol minum, reusable tote bags. Kadang saya masih lupa bawa. Tapi saya yakin, saya bisa menjadikan hal ini kebiasaan sehari-hari.
Jadi sobat Ambunatya, ayo sama-sama kita bantu membersihkan dan menjaga bumi kita jadi sehat dan indah kembali.







