Lombok, I Am Coming Part 2

Hari Pertama : Depok – Mataram

Hari Senin, tanggal 11 Januari 2021, saya memulai perjalanan saya menuju Lombok. Berbekal tiket airasia QZ 610, surat keterangan negatif test rapid antigen, dan ransel yang berisi kebutuhan pribadi, saya menuju pool bus Hiba tujuan bandara Soekarno Hatta Cengkareng.

Menumpang bus adalah cara hemat untuk menuju Bandara. Terutama bagi saya yang tinggal di Depok. Ongkos tiket bus dari Depok menuju bandara Soetta hanya Rp. 60.000,- saja. Jadi dari rumah saya pesan gojek, dengan ongkos Rp. 13.000,-. Saya tiba di pool jam 6.15 menit, dengan harapan jam 6.30 adalah jadwal berikutnya. Sayangnya begitu tiba di sana, bus baru saja berangkat.

Ternyata sejak pandemi, jadwal bus berubah jadi satu jam sekali, bukan setengah jam sekali. Petugas disana menyarankan agar saya menggunakan transportasi lain, terutama karena hari itu Senin, jika berangkat jam 7.00 agak beresiko. Biasanya waktu perjalanan di hari Senin lebih lama dibandingkan hari lain.

Dengan pertimbangan tersebut akhirnya saya memesan taxi blue bird via aplikasi Gojek menuju bandara. Tercantum disana ongkosnya Rp. 202.000,- Karena tidak berencana naik taxi, maka saya tidak membawa e-money. Jadi ongkos tol ditalangi pak supir. Total pengeluaran yang ditagihkan sebesar Rp. 255.000. Jadi tol yang ditagihkan ke saya sebesar Rp. 53.000,-

Saya tidak tahu pasti berapa tarif tol Cijago menuju bandara Soetta. Berhubung saat itu saya tidak teliti dan tidak minta tanda terima, saya langsung bayar bahkan memberikan tip. Untuk pastinya mungkin teman-teman bisa cek lagi, atau lebih amannya kalau naik taxi membawa e-toll sendiri. Total ongkos dan tip yang saya berikan untuk taxi Rp. 280.000,-

Ada hal baru yang harus dilakukan sejak pandemi Covid-19. Sebelum masuk untuk check-in, kita harus melakukan validasi surat keterangan bebas Covid, setelah itu baru kita bisa check in. Jangan lupa juga menginstal aplikasi e-hack yang harus kita perlihatkan sesaat kita tiba di bandara tujuan. Jika kita tidak mau instal aplikasi tersebut, sebagai gantinya kita bisa mengisi secara manual. Ada formulir yang disediakan dan harus kita isi sebelum kita keluar bandara.

Hal lain yang tidak saya ketahui adalah larangan untuk membawa tripod ke kabin pesawat. Tripod harus dimasukkan ke bagasi. Alhamdulillah petugas imigrasi di bandara berbaik hati mengantar saya ke petugas Airasia dan akhirnya ransel saya itu masuk bagasi.

Saat melakukan perjalanan, biasanya saya menghindari check in bagasi. Rasanya sayang waktu terbatas yang dimiliki, malah dihabiskan untuk menunggu proses pengambilan bagasi. Apalagi jika ada masalah, atau pengambilan bagasi digabung dengan maskapai yang segrup, sehingga kadang kita harus menunggu berjam-jam untuk bagasi kita. Hanya saja sayang juga meninggalkan tripod yang baru saya beli, dan lagi saya memerlukannya untuk foto-foto di lokasi.

Penerbangan ke Lombok hari itu Alhamdulillah tepat waktu. Setelah sekian lama tidak jalan-jalan ke Lombok, saya terkagum-kagum dengan bandara Lombok Praya yang lumayan megah. Semuanya masih terlihat kinclong.

Tiket

Sesampainya di Bandara setelah beres urusan bagasi, saya langsung mencari bus Damri dengan tujuan Mataram. Anda bisa juga menggunakan taxi. Tapi untuk menghemat budget maka bus Damri menjadi pilihan saya. Sebelumnya, jangan lupa untuk mengisi formulir atau aplikasi e-hack, karena sebelum pintu keluar kita diharuskan menyerahkan formulir yang telah diisi, atau perlihatkan QR dari e-hack yang sudah diisi, agar discan oleh petugas di bandara.

Kita cukup berjalan kearah luar sekitar 100 meter, tanya saja pada petugas disana, dan kita akan diarahkan untuk membeli tiket bus. Harga tiketnya Rp. 30.000,-  Tepat jam 12.30 WIT bus kami meninggalkan bandara. Tidak banyak penumpangnya. Ketika itu hanya ada 5 orang penumpang saja. Jadi saya bebas memilih tempat duduk yang saya inginkan.

Pemandangan menuju Mataram lumayan menyejukkan mata. Masih banyak sawah terhampar di kanan kiri jalan. Pepohonan juga masih banyak terlihat. Perjalanan menuju Mataram dari Bandara memakan waktu sekitar satu jam. Apalagi di masa pandemi, jalanan relatif sepi jadi perjalanan sangat lancar.

Setibanya di pool Damri, saya mencari tempat makan, karena perut sudah lumayan keroncongan. Didekat pool bus ada beberapa warung makan. Sayangnya tidak ada yang menjual makanan khas Lombok. Akhirnya saya memilih warung bakso dan nasi goreng untuk mengisi perut. Rasanya standar dan harganya terjangkau, cukup merogoh kantung Rp. 22.000,- sudah dapat sepiring nasi goreng dan segelas jeruk hangat. Setelah perut terisi kenyang, saya menuju hotel dengan Go car. Tarif dari pool bus Damri menuju hotel dengan tip Rp. 27.000,-

Beberapa hari sebelum ke Lombok, saya sudah reservasi hotel melalui booking.com. Berdasarkan hasil penelusuran di google, tempat yang cukup strategis untuk menginap di Mataram adalah disekitar Cakranegara. Jadi saya memilih Lombok Plaza hotel and Convention sebagai tempat menginap. Rate yang saya dapatkan saat itu Rp. 324.000,- per malam, belum termasuk makan pagi. Untuk makan pagi dikenakan charge sebesar Rp. 50.000,- Makanannya tidak terlalu lengkap, tapi worth it untuk harga yang dibayarkan.

Di daerah sekitar hotel kita bisa menemukan banyak toko-toko elektronik dan bank. Sehingga tidak perlu jauh-jauh mencari ATM. Indomaret dan Alfa mart juga banyak terdapat disana. Untuk jajanan, bisa kita beli di pedagang kaki lima. Sedangkan untuk restoran dan karaoke, hotel Lombok Plaza dan Convention menyediakan fasilitas tersebut. Jadi tidak perlu repot untuk mencari tempat makan dan hiburan.

Sayangnya, tidak banyak tempat makan khas Lombok yang ada disekitar hotel. Hanya ada satu warung makan yang menjual ayam taliwang atau pelecingan ayam. Untuk makan malam saya membeli ayam bakar pelecingan seharga Rp. 40.000,- Rasanya lumayan enak dan pastinya pedas. Alhamdulillah saya bisa mencicipi bagaimana rasa masakan asli Lombok.

Hari pertama tidak banyak yang dilakukan kecuali jalan-jalan sekitar hotel dan tentunya beristirahat untuk menyiapkan tenaga buat kegiatan keesokan harinya.

Rincian Pengeluaran Hari Pertama:

  1. Antigen rapid test Rp. 95,000,-
  2. Gojek dari rumah menuju pool Hiba Rp. 13.000,-
  3. Taxi dari Depok ke Bandara Soetta Rp. 255.000,-
  4. Tip taxi Rp. 25.000,-
  5. Bus Damri Rp. 30.000,-
  6. Makan siang nasi goreng & jeruk hangat Rp. 22.000,-
  7. Taxi dan tip Rp. 27.000,-
  8. Makan siang ayam bakar pelecingan Rp. 40.000,-
  9. Snack dan air mineral Rp. 35.000,-

Total pengeluaran di hari pertama sebesar Rp. 542.000,