Education,  Family & Parenting,  Money

Manajemen Keuangan untuk Hidup Lebih Sejahtera. Belajar dari Kasus Presenter Terkenal

Beberapa hari ini sempat viral berita tentang salah satu presenter dan artis ternama yang mengalami perdarahan otak, dan harus menjalani pengobatan disalah satu rumah sakit swasta terkenal. Sebetulnya ini berita biasa, tapi karena istri sang artis meminta penggalangan dana untuk biaya perawatan suaminya, maka banyak netizen yang memberikan respon di sosial media menanggapi berita ini.

Tentunya disetiap berita, selalu ada dua pihak, pro dan kontra. Tapi khusus untuk berita penggalangan dana yang dilakukan istri sang artis, mayoritas yang mampir di beranda sosmed saya adalah tanggapan yang kontra. Ada berbagai alasan yang dikemukakan. Mulai dari pertanyaan, masa sih seorang artis terkenal dan masih aktif tidak punya tabungan dan asuransi, bukankah ia dan keluarga masih tinggal dirumah mewah, memiliki mobil mewah juga, bahkan properti yang dimiliki juga tidak hanya satu. Selain itu barang-barang branded juga banyak dimiliki oleh mereka. Seharusnya atasi sendiri dulu, misal dengan menggadaikan harta yang dimiliki, atau malah gunakan BPJS saja. Berita ini diperparah karena pada saat penggalangan dana dilaksanakan, si artis baru dirawat 4 hari di rumah sakit.

Wajar pertanyaan dan tanggapan-tanggapan ini muncul dari netizen. Terutama di zaman milenial, dimana kehidupan pesohor-pesohor banyak dipamerkan di sosial media, ataupun diportal-portal media resmi. Kehidupan yang borju sudah jadi pemandangan sehari-hari yang banyak dilihat oleh masyarakat. Barang branded, jalan-jalan keluar negeri, makan di resto terkenal, kesana kemari menggunakan mobil mewah, bahkan beberapa pesohor rajin pamer jet pribadinya. Jadi ketika musibah terjadi, dan keluarga meminta bantuan masyarakat yang kondisi ekonominya mayoritas dibawah kemampuan sang artis, maka akan banyak orang yang mempertanyakan bahkan membully si istri.

Berdasarkan pengalaman hidup selama berinteraksi dengan berbagai macam individu, saya melihat sebenarnya kondisi ini bisa terjadi pada siapapun. Baik individu yang memiliki penghasilan/income besar maupun kecil.

Poinnya bukan pada berapa jumlah uang yang dihasilkan, tapi pada kemampuan mengatur atau memanage income. Sayangnya kemampuan mengatur keuangan ini, tidak diajarkan di sekolah. Sehingga banyak orang yg bangkrut karena tidak melek finansial dan tidak mampu mengatur keuangan keluarga mereka.

Untuk hidup sejahtera tentunya diperlukan usaha maksimal. Bentuknya seperti apa, saya coba sharing contoh nyata yang saya teladani dalam hidup saya. Sampai sekarang pun saya masih belajar dari beliau berdua. Guru saya ini orang tua saya.

Ada beberapa nasehat dan teladan yang diberikan kedua orang tua saya, yaitu:

1. Memiliki Harga Diri Tinggi

Menanamkan harga diri tinggi pada seluruh anggota keluarga, merupakan hal utama dan paling penting yang harus dilakukan. Mengapa hal ini menjadi sangat penting? Seseorang yang memiliki harga diri tinggi, akan malu meminta bantuan pada orang lain. Biasanya orang-orang seperti ini akan berusaha untuk mencari jalan secara optimal agar ia tidak perlu meminjam uang apalagi meminta sumbangan atau donasi. Mereka baru akan melakukannya jika mereka benar-benar dalam kondisi terpaksa. Biasanya orang yang memiliki harga diri tinggi akan memberdayakan semua sumber daya yang mereka miliki terlebih dulu. Hal penting lainnya adalah mengajarkan untuk meminta pada Tuhan diberikan jalan terbaik, selain tentunya terus berikhtiar sekeras mungkin.

2. Menghindari Hutang

Hutang adalah satu hal yang harus dihindari, apalagi jika hutang itu sifatnya untuk hal-hal konsumtif. Hutang hanya boleh untuk usaha. Jadi ketika menginginkan sesuatu, yang dilakukan oleh orang tua saya adalah menabung terlebih dahulu. Beliau berdua mengajarkan untuk menunda keinginan. Tidak ada yang instan. Jika memang kebutuhannya mendesak, lebih baik membeli sesuatu sesuai kemampuan yang dimiliki. Alih-alih mencicil motor atau mobil baru, beliau akan membeli mobil second yang kondisinya masih baik. Jika uang hasil tabungan sudah mencukupi, baru akan ditukar tambah dengan kendaraan yang diinginkan. Ini pula yang saya dan suami lakukan. Alhamdulillah prinsip seperti ini juga berhasil kami tularkan pada anak semata wayang kami.

3. Menabung

Menabung berapapun penghasilan kita. Ada berbagai metode dalam menabung. Ada yang menggunakan sistem amplop, sistem jar/toples, membaginya menjadi 3, bahkan ada yang mengajarkan untuk menyisihkan 40 persen dari penghasilan kotor yang didapat. Apapun metodenya, menabung harus dilakukan diawal kita menerima penghasilan, bukan sisa dari pendapatan kita. Jadi mau tidak mau, kita harus mencukupkan penghasilan yang sudah kita anggarkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

4. Hidup Sederhana

Hiduplah dibawah standar kemampuan kita. Meskipun kita mampu tinggal dirumah besar berkamar 10, apakah hal itu diperlukan, jika anggota keluarga kita hanya 5 orang misalnya. Dengan kata lain, jika penghasilan yang kita anggarkan untuk kebutuhan harian memungkinkan untuk dihemat lagi, mengapa tidak? Misalnya saja, jika budget kita di angka 10, jika bisa, hiduplah di angka 8. Ekstra budget yang ada, bisa kita manfaatkan untuk melakukan atau membeli hal-hal yang kita inginkan. Misalnya saja untuk berjalan-jalan, membeli gadget, kendaraan, dll.

4. Jangan Gengsi-an atau Pencitraan

Gengsi dan pencitraan memerlukan banyak biaya. Gengsi membuat kita memaksakan diri, dan akhirnya akan menyusahkan diri sendiri. Misalnya kalau bisa buat kopi sendiri dirumah untuk apa ke cafe. Jika masih mampu mrngerjakan pekerjaan rumah sendiri, tak perlu punya ART, begitu juga dengan supir. Kalau masih bisa stir sendiri, lebih baik lakukan saja sendiri. Apalagi saat ini ketika taxi online sudah bisa kita dapatkan dengan mudah. Jadi semuanya dilakukan betul-betul sesuai kebutuhan, bukan keinginan.

5. Berinvestasi untuk Kesehatan, Pengetahuan, dan Properti

Kesehatan adalah hal terpenting dalam hidup. Jika kita sehat maka kita bisa berusaha, bekerja, mencari ilmu dsb. Sebaliknya jika sakit, maka kita tidak atau sulit melakukan sesuatu. Belum lagi biaya untuk pengobatan juga tidak murah. Investasi kesehatan yang bisa dilakukan oleh semua orang adalah memiliki gaya hidup yang sehat. Misalnya dengan berusaha menjaga pola makan, olah tubuh, tidak merokok, dll. Selain itu usahakan untuk memiliki asuransi. Di Indonesia sekarang ini semua orang harus menjadi peserta BPJS, yang merupakan asuransi kesehatan yang diatur oleh pemerintah. Atau jika kita merasa BPJS tidak memenuhi keinginan kita, maka kita bisa mengambil asuransi kesehatan swasta.

Selain kesehatan, menambah pengetahuan adalah hal penting yang harus dilakukan. Ada berbagai cara untuk menambah pengetahuan, bisa melalui jalur formal ataupun informal. Lewat sekolah-sekolah atau kursus-kursus sesuai minat kita. Sekarang ini sudah banyak kursus gratis online yang diadakan oleh Google, Harvard University, dll. Jadi banyak peluang bagi kita untuk terus mengembangkan kemampuan diri.

Yang terakhir adalah investasi di bidang properti. Investasi properti bisa nantinya dimanfaatkan sebagai pasif income yg menambah penghasilan. Tentunya lokasi dan status properti menjadi hal penting yang harus dipertimbangkan ketika kita akan berinvestasi dibidang ini.

6. Hanya berbisnis/investasi di bidang yg dikuasai saja.

Hindari berbisnis dibidang yang tidak kita kuasai untuk mengurangi resiko yang terjadi. Dengan mengerti apa yang kita kerjakan, maka kasus investasi bodong yang banyak terjadi seperti belakangan ini, bisa dihindari.

Tentunya masih banyak hal lain yg bisa dilakukan untuk mengatur keuangan keluarga. Tetapi yang harus selalu kita ingat, tidak ada yang instan dalam hidup. Untuk sejahtera tentunya dibutuhkan usaha konsisten menjalankan hal-hal tersebut diatas.

Yang pasti, apa yg terjadi pada sang artis, bisa kita jadikan pelajaran. Bukankah belajar dari pengalaman merupakan guru terbaik bagi kita. Kita bisa belajar dari kesalahan yg dilakukan orang lain, agar kita bisa terhindar dari masalah yang sama.

Ada pepatah yg mengatakan sedia payung sebelum hujan. Artinya kita harus bertawakal, berusaha semaksimal yang kita bisa, hasil akhirnya biar Tuhan yg menentukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!