Tips Belajar di Luar Negeri
Judul di atas terinspirasi dari hadits yang kita kenal sejak lama, “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”. Bahkan Nabi Muhammad SAW yang seorang Arab dan beragama Islam pun, menyarankan umatnya untuk selalu mencari ilmu meskipun harus pergi kebelahan bumi lain.
Memang ada pertentangan tentang hadits ini, karena ada yang beranggapan bahwa hadits ini palsu. Terlepas dari pertentangan mengenai kesohihan hadits tersebut, jika kita mau melihat secara positif, maka tidak ada yang salah dengan anjuran tersebut. Anggap saja, kata ini sebagai kata-kata mutiara. Saat seseorang mencari ilmu, kita bisa mencari ilmu dimana saja, bahkan sampai menyeberangi lautan, bahkan benua. Kita bisa belajar dimanapun, dari siapapun, bahkan dari orang-orang yang memiliki keyakinan dan budaya yang berbeda. Tentunya selama ilmu itu membawa manfaat bagi banyak orang. Hal ini juga yang keluarga kami percayai.
Saya lahir dari keluarga yang mendahulukan pendidikan dibandingkan hal lain. Ayah saya seorang perwira TNI-AD dan ibu saya seorang dosen. Mungkin hal ini banyak mempengaruhi pola pikir beliau berdua. Kehidupan sebagai anggota TNI, membuat ayah harus bergaul dengan banyak orang dengan berbagai macam latar belakang. Sejak kecil kami tinggal di asrama tentara. Disana berkumpul keluarga TNI yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang datang dari Jawa, Bali, Sumatera, Sulawesi, Maluku, Irian Jaya (sekarang disebut Papua), bahkan dari luar negeri. Kondisi ini pula yang membuat kami sekeluarga belajar untuk cepat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana kami berada. Alhamdulillah ternyata kemampuan ini menjadi bekal yang sangat bermanfaat ketika saya belajar di luar negeri.
Hal lain yang mempengaruhi cara berpikir dan wawasan beliau berdua, adalah kesukaan mereka pada buku. Beliau berdua adalah individu-individu yang sangat mencintai buku. Dimanapun ada kesempatan, mereka akan menghabiskan waktu dengan membaca. Almarhum ayah bahkan pernah bercerita. Saat beliau kecil, betapa beliau mengagumi keluarga tetangganya yang selalu mempunyai waktu khusus untuk membaca bersama. Keluarga tersebut akan membaca bukunya masing-masing, setiap hari, di waktu yang sama.
Saya masih ingat ketika saya masih sekolah dulu, setiap kali kami minta uang untuk buku, beliau berdua tanpa banyak bicara akan memberikannya untuk membeli buku yang kami perlukan. Kadang kondisi tersebut kami manfaatkan untuk mendapatkan uang jajan tambahan saat kantong sudah hampir kosong. Kalau uang bulanan habis, alasan beli buku akan kami jadikan proposal. Kami tidak bohong sih, buku tetap dibeli, tapi kami cari di Pasar Palasari, pusat buku murah di kota Bandung tempat saya tinggal.
Ibu dan ayah adalah orangtua yang menekankan pentingnya pendidikan. Beliau percaya bahwa pendidikan yang baik akan membantu manusia menjadi lebih baik. Tentunya itu harapan semua orangtua. Karena itu, mereka selalu berusaha mendukung secara maksimal keinginan belajar anak-anaknya, apapun bidang yang dipilihnya. Sayangnya, saya pribadi sering menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan. Berbagai les saya ikuti, tapi tidak ada yang tuntas. Semuanya hangat-hangat tai ayam. Saya cepat bosan, dan tidak tekun untuk menyelesaikan semua jenis kursus yang saya ambil. Kursus piano, organ, gitar. Begitu juga dengan les tenis, olahraga berkuda, tari, bahasa Inggris. Semuanya berhenti ditengah jalan. Padahal tak ada satu kursuspun inisiatif dari orangtua. Semua keinginan saya sendiri. Hanya saja saya memang tipe orang yang gampang sekali bosan. Sayangnya, baru belakangan ini saya sadari. Alhamdulillah beliau berdua cukup bijak, dan tidak marah. Mungkin sebenarnya mereka kecewa, tapi tidak pernah mengatakannya, dan pada akhirnya kelakuan saya itu menjadi penyesalan besar saya.
Meskipun demikian, untuk masalah sekolah formal saya bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Meskipun prestasi saya biasa-biasa saja. Mungkin alasan ini pula yang membuat orangtua saya mengijinkan saya melanjutkan kuliah, ketika saya mengatakan ingin melanjutkan studi S-2 saya di luar negeri.
Pada akhir tahun 90-an, belajar di luar negeri mulai menjadi tren, meskipun pelakunya belum sebanyak saat ini. Mayoritas yang menuntut ilmu di luar negeri didukung biaya pribadi. Beasiswa dari orangtua lebih tepatnya. Saat itu, beasiswa dari pemerintah atau perusahaan belum sebanyak saat ini. Belum lagi keterbatasan dalam mengakses informasi. Internet boleh dibilang belum ada. Meskipun ada, hanya pihak tertentu saja yang bisa mengaksesnya. Oleh karena itu mayoritas dari penerima beasiswa adalah orang-orang yang punya akses ke informasi. Jika kita kurang jeli, maka kita tidak tahu beasiswa apa saja yang ditawarkan di luar sana.
Alhamdulillah, orangtua saya mampu memberikan beasiswa pribadi mereka untuk saya. Saat semua biaya sudah siap, maka langkah selanjutnya adalah melakukan persiapan. Apa saja persiapan yang harus dilakukan? Bagaimana caranya? Apa saja tips dan trik yang harus kita siapkan? Semuanya akan saya tulis di lanjutan artikel ini. Siapa tahu bagi yang berminat untuk belajar di luar negeri, pengalaman saya ini bisa bermanfaat sebagai bahan referensi. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Salam.


