6 Langkah Membuat Anak Menjadi Pembelajar Mandiri
Di artikel bagian pertama, sudah dijelaskan bahwa ada beberapa tips yang bisa kita lakukan agar anak menjadi pembelajar mandiri sepanjang hayat. Beberapa hal yang bisa kita lakukan adalah:
1. Kenali Potensi dan Minat Anak
Tiap anak terlahir dengan potensi yang berbeda-beda. Saya masih ingat, dosen saya pernah mengatakan bahwa semua anak terlahir cerdas. Tidak ada anak yang bodoh.
Semua anak yang lahir normal, akan tumbuh menjadi anak balita yang penuh rasa ingin tahu. Mereka senang menjelajah segala hal baru disekelilingnya. Mereka selalu bertanya “Apa ini?, apa itu?” pada orang disekelilingnya. Hanya saja tidak semua orang tua mengerti dan mau menjawab semua pertanyaan mereka. Seringkali anak diminta diam dan dianggap cerewet.
Teriring waktu, pola asuh dan pola ajar yang tidak tepat menyebabkan kecerdasan anak tidak berkembang secara optimal.
Di Indonesia, sampai sekarang ini, masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa anak yang cerdas adalah anak yang pintar dalam bidang matematika, fisika, dan bidang-bidang sains saja. Sementara anak yang pintar di bidang lain seperti bahasa, seni, olahraga, bersosialisasi dan kemampuan lain, dianggap tidak cerdas.
Albert Einstein pernah mengatakan, “Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.” (Setiap orang adalah jenius. Tapi jika kamu menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon, maka sepanjang hidupnya akan percaya bahwa ia bodoh).
Pola pikir seperti ini yang harus dirubah. Kecerdasan tidak hanya terbatas pada kecerdasan kognitif saja, tetapi juga pada bidang-bidang lainnya. Ada anak yang cerdas secara kinestetik. Mereka mudah sekali mempelajari gerak, misalnya berolahraga dan menari. Ada yang cerdas dalam berbahasa. Anak seperti ini sangat cepat mempelajari bahasa baru yang ia dengar. Howard Gardner menjelaskannya dalam teori Multiple intellegences (kecerdasan majemuk).
Howard Gardner mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan suatu masalah dalam menciptakan suatu (produk) yang bernilai pada suatu budaya. Teori belajar kecerdasan majemuk, telah mengalami perkembangan sejak pertama kali ditemukan. Gardner menjelaskan ada 9 kecerdasan majemuk yang terdiri dari:
- Kecerdasan Bahasa atau Linguistik
- Kecerdasan Visual dan Spasial
- Kecerdasan Musikal
- Kecerdasan Logika Matematika
- Kecerdasan Interpersonal
- Kecerdasan Intrapersonal
- Kecerdasan Kinestetika
- Kecerdasan Naturalis
- Kecerdasan Eksistensial
Sebagai orang tua, tentunya kita diharapkan mampu mengenali potensi dan minat anak. Sehingga menjadi tugas kita untuk mencari tahu potensi anak dan mendorong anak agar mengoptimalkan kemampuannya.
2. Kenalkan Anak pada Buku dan Ajarkan untuk Cinta Membaca
Mungkin banyak dari kita pernah mendengar kalimat buku adalah jendela dunia. Saya sebagai seorang pencinta buku meng-amini kalimat tersebut. Mengapa demikian? Karena melalui buku kita bisa menjelajah seluruh bagian bumi ini. Kita juga bisa mengetahui kebiasaan, adat istiadat, pengetahuan, dan banyak lagi. Saya pernah menulis mengenai Jelajah Dunia Melalui Buku.
Buku yang baik dan bermutu, akan membuka wawasan anak. Anak akan bisa melihat dunia dari kacamata yang berbeda, tidak melulu hanya dari apa yang diajarkan oleh orang tua, atau pengasuhnya di rumah. Dunia pastinya akan lebih berwarna, saat anak suka dan cinta membaca.
Anak juga akan punya kemampuan untuk mencari kegiatan sendiri. Ia tidak harus selalu ditemani oleh orang lain, karena ia punya sahabat yang akan menemaninya kemanapun, setumpuk buku kesayangan.
Di jaman milenial seperti ini, buku tidak harus selalu berbentuk fisik. Ada banyak buku elektronik yang bisa kita dapatkan dengan harga yang cukup terjangkau. Di Indonesia, kita bisa berlangganan melalui aplikasi Gramedia digital.
Gramedia digital menyediakan beberapa pilihan paket; paket non fiksi, paket fiksi, atau paket premium. Gramedia juga memberikan diskon untuk event khusus sampai dengan 50%. Sedangkan untuk buku-buku berbahasa Inggris kita bisa berlangganan Kindle ebooks. Dari hasil surfing saya mengetahui bahwa ada paket berlangganan Kindle yang sangat terjangkau. Sayangnya belum tersedia di Indonesia. Jadi kalau ingin mengaktifkannya, harus dari luar negeri. Jika memiliki teman atau kerabat yang berada di luar negeri, maka kita bisa minta tolong mereka untuk mengaktifkannya melalui telepon selular yang mereka miliki. Bisa dilihat linknya di sini.
Cara mengenalkan dan membuat anak mencintai anak akan saya jelaskan di artikel khusus, yang sekarang ini masih dalam tahap penulisan.
3. Sesuaikan Cara Belajar dengan Gaya Belajar Anak
Setiap individu memiliki gaya belajar yang berbeda dan ini berkaitan dengan kecerdasan majemuk yang dimilikinya. Jika seorang anak memiliki kecerdasan majemuk kinestetik tentunya akan lebih mudah baginya untuk belajar sambil bergerak atau menggerakkan anggota tubuhnya. Misalnya saja saat berhitung, lebih mudah jika dengan memperagakan angka dengan gerak tubuh tertentu. Demikian juga dengan anak yang memiliki kecerdasan bahasa. Akan lebih mudah jika hal yang sama dipelajari melalui lagu atau puisi.
Mempelajari sesuatu tentunya akan lebih menyenangkan jika apa yang dipelajarinya itu sesuai dengan gaya yang dimilikinya. Tentunya sebagai orang tua menjadi tugas kita untuk selalu belajar dan mengerti sifat dan karakter anak-anak kita.
4. Pandangan Positif tentang Belajar
Saat kuliah dulu, dosen saya menjelaskan bahwa otak manusia bekerja dengan sangat mengagumkan. Jika kita merasa tidak suka, atau bahkan merasa bahwa apa yang kita pelajari itu sulit, maka otak kita akan menutup akses atau bahasa awamnya nge-block dan pada akhirnya sulit bagi kita untuk mengerti apa yang kita pelajari. Kebalikannya, jika kita menyukai sesuatu maka selain otak yang mau bekerjasama, semangat atau usaha kita juga akan tinggi, sehingga kita tidak mudah menyerah saat menghadapi tantangan.
5. Harga Diri
Harga diri adalah hal penting yang harus dimiliki setiap individu. Harga diri ini diperoleh tentunya dengan dukungan dari orang-orang disekelilingnya. Bagaimana agar harga diri anak terbentuk?
Harga diri akan terbentuk jika anak yakin bahwa dia mampu menyelesaikan kegiatan yang dilakukannya, dan hasil maupun proses yang dihasilkannya itu dihargai. Penghargaan atas prestasinya tersebut, membuat anak percaya bahwa ia akan mampu melakukan hal lainnya juga.
Bagaimana cara orang tua mendukung putra-putrinya agar menjadi pribadi yang percaya diri?
Caranya dengan menghargai hasil karya ataupun prestasi anak. Sekecil apapun prestasi yang dilakukannya, hargai dengan tulus. Sebagai contoh, ketika anak menggambar seekor kuda, orang tua tidak melecehkan gambar yang dibuatnya. Meskipun mungkin gambar itu menurut orang dewasa tidak sesuai dengan gambaran kuda yang kita kenal. Menurut kita gambar itu lebih menyerupai sapi. Sebagai orang tua kita jangan mengolok-olok atau menertawakannya. Lebih baik jika kita meminta anak untuk menceritakan dan menjelaskan apa yang digambarnya. Dengarkan secara aktif, dengan minat dan perhatian yang tulus.
6. Menerima Hadiah
Hadiah adalah salah satu bentuk penghargaan yang bisa diberikan pada anak. Tentunya hadiah hanya diberikan sesekali saat hari-hari spesial. Hadiah ini tidak selalu berbentuk fisik. Bisa juga berbentuk pujian. Dikenal juga dengan sebutan social rewards.
Belajar adalah kegiatan yang harus dilakukan sepanjang hayat. Tidak ada kata selesai untuk belajar. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dalam hidup. Tentunya kemampuan belajar sepanjang hidup kita akan membuat hidup kita lebih berarti. Apalagi jika kita mampu mengamalkan apa yang sudah kita pelajari.
Sobat Ambunatya, semoga kita dan anak-anak kita mampu menjadi orang yang selalu bersemangat untuk belajar dan menambah ilmu, serta tidak lupa untuk mengamalkannya, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain. Insya Allah.


