Membuat Anak Menjadi Pembelajar Mandiri : Bagian 1
Tahun 2020 adalah tahun yang penuh kejutan. Selama ini, tahun berganti tahun tanpa ada perbedaan yang berarti, semuanya berjalan dengan rutin. Tapi datangnya Covid-19 merubah semua.
Kegiatan yang biasanya bisa dilakukan tanpa ada kekhawatiran, menjadi merubah. Apalagi diawal datangnya virus ini. Alhamdulillah seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya kita bisa menerima dan mencoba untuk merubah kebiasaan kita, orang-orang bilang kebiasaan new normal.
Perubahan meliputi segala bidang,termasuk kegiatan bekerja, belajar, beribadah yang harus dilakukan dari rumah. Jika harus keluar rumah, maka ada protokol kesehatan yang harus dilaksanakan.
Perubahan dalam pola pendidikan menjadi hal yang dilematis, terutama bagi kita yang hidup di Indonesia. Meskipun hampir semua orang dari tingkat sosial tinggi sampai rendah memiliki handphone bahkan smartphone, tidak semua orang tahu dan mengerti cara menggunakannya secara optimal. Mayoritas pengguna handphone hanya menggunakannya untuk sosial media.
Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.
Ironisnya penggunaan aktif smartphone di Indonesia ini tidak berbanding lurus dengan minat baca penduduknya yang sangat rendah. UNESCO bahkan menyebutkan Indonesia berada di urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, hanya 0,001%. Artinya dari 1000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Riset lain yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016, menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.
Kondisi tersebut di atas memiliki pengaruh besar bagi pelajar di Indonesia. Kebiasaan mengandalkan pertemuan tatap muka, menyebabkan proses Belajar Dari Rumah (BDR) seringkali membuat frustrasi tidak hanya siswa yang bersangkutan, tapi juga bagi orang tua yang harus menggantikan fungsi guru selama kegiatan BDR, apalagi jika siswa datang dari keluarga dengan kemampuan pendidikan dan ekonomi terbatas.
Tapi seperti kata pepatah, selalu ada hikmah dibalik suatu bencana. Covid-19 pada akhirnya memberi kita kesempatan untuk berubah. Kita sebagai orang tua yang biasanya tidak terlalu peduli dengan proses pendidikan anak dan menyerahkan semua pendidikan kepada guru, akhirnya harus belajar untuk ikut serta terlibat dalam memberi warna pada anak-anak kita. Paling tidak sebagai orang tua, kita tahu bahwa tidak mudah menjadi guru bagi anak-anak kita. Tapi bagaimanapun, semua itu tetap harus kita lakukan.
Nah bagaimana agar proses belajar ini menjadi lebih mudah karena anak punya minat dan kemampuan untuk mencari dan menjadi pembelajar mandiri atau dengan kata lain memiliki kemampuan untuk belajar secara otodidak? Ada beberapa tips yang bisa kita jalankan. Tips-tips ini akan dijelaskan lebih rinci di artikel Membuat Anak Menjadi Pembelajar Mandiri bagian II. Jangan ketinggalan ya untuk menyimak, apa saja sih tips-nya.
You May Also Like
Tips Belajar di Luar Negeri
September 24, 2020
Mendidik Anak Agar Tumbuh Sehat, Bahagia dan Percaya Diri
July 24, 2022