Motivation
-
Jelajah Dunia Lewat Buku
Dibesarkan di keluarga yang suka membaca, saya tumbuh menjadi seorang kutubuku. Berbagai jenis buku, majalah, komik, dan novel yang ada di rumah, tuntas saya baca. Judul-judul majalah seperti Bobo, Intisari, Tempo, Femina, novel, jadi bacaan saya sehari-hari. Saat saya duduk di kelas 5 SD, novel karangan Barbara Cartland, Agatha Christie, dan Asmaraman Kho Ping Kho telah menjadi novel-novel favorit saya. Walaupun tentunya Lima Sekawan karangan Enid Blyton yang terfavorit. Saat itu medio tahun 1980-an. Kondisi perekonomian tidak sebaik saat ini. Ayah dan Ibu saya yang ASN dengan golongan menengah, memiliki gaji terbatas untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Buku menjadi barang mewah yang tidak bisa setiap saat kami miliki. Jatah membeli buku…
-
Berdamai dengan Duka, Memahami Lima Tahap Berduka
Tulisan ini sebetulnya sudah mulai ditulis beberapa minggu yang lalu. Hanya saja saya belum sempat menyelesaikannya. Alhamdulillah hari ini bisa saya posting juga. Ide tulisan ini muncul sekitar sebulan yang lalu, ketika saya dikejutkan oleh telepon dari tetangga di komplek tempat saya tinggal. Beliau memberitahukan, bahwa salah satu tetangga yang tinggal tak jauh dari rumah saya meninggal dunia. Saya betul-betul tidak menyangka, karena usianya yang relatif muda. Ternyata lima hari sebelum beliau wafat, Bapak ini sakit dan masuk rumah sakit. Berhubung kesibukan kami masing-masing, biasanya kami hanya bertemu saat kami akan pergi bekerja, itupun hanya sesekali saja. Sehingga boleh dibilang saya tidak tahu perkembangan terakhir di sekitar rumah. Tentunya, berita…
-
Hidup Sederhana, Hindari Kemubaziran
Seperti biasa, di WAG ada teman-teman yang suka membagikan konten yang dianggap bisa menjadi masukan bagi teman-teman se-grup. Hari itu, ada seorang teman yang berbagi kisah pengalamannya. Ia mengingatkan bahwa disadari atau tidak, seringkali kita melakukan kemubaziran. Untuk jelasnya saya bagikan kembali sharing teman tersebut: Jerman adalah sebuah negara industri terkemuka. Di negara seperti ini, banyak yang mengira warganya hidup foya-foya. Ketika saya tiba di Hamburg, saya bersama rekan-rekan masuk ke restoran. Kami lihat banyak meja kosong. Ada satu meja dimana sepasang anak muda sedang makan. Hanya ada dua piring makanan dan dua kaleng minuman di meja mereka. Saya bertanya dalam hati apa hidangan yang begitu simple dapat disebut romantis…
-
Etiket, Masihkah Diperlukan?
Pernahkah anda mendengar seseorang mengatakan, “Orang itu betul-betul tidak tahu etiket!”. Kata-kata ini kadang muncul dari mulut seseorang karena melihat sesuatu yang dianggap kurang pantas. Contohnya, saat seseorang bertamu ke rumah kenalannya, dan anak tuan rumah lewat tanpa mengucapkan permisi, dan berlalu seolah-olah tidak ada siapapun disitu. Kata etiket mungkin tidak terlalu sering kita dengar saat ini. Kita mungkin lebih sering mendengar kata sopan santun. Tapi di masa lalu, kata ini lumayan sering diucapkan. Apalagi saat populernya sekolah-sekolah kepribadian yang mengajarkan etiket sebagai salah satu mata pelajarannya. Biasanya saat mendengar kata etiket, kita akan membayangkan tentang tata cara makan dalam acara formal, atau aturan saat kita diundang ke upacara-upacara formal…
-
Tips Belajar di Luar Negeri
Judul di atas terinspirasi dari hadits yang kita kenal sejak lama, “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”. Bahkan Nabi Muhammad SAW yang seorang Arab dan beragama Islam pun, menyarankan umatnya untuk selalu mencari ilmu meskipun harus pergi kebelahan bumi lain. Memang ada pertentangan tentang hadits ini, karena ada yang beranggapan bahwa hadits ini palsu. Terlepas dari pertentangan mengenai kesohihan hadits tersebut, jika kita mau melihat secara positif, maka tidak ada yang salah dengan anjuran tersebut. Anggap saja, kata ini sebagai kata-kata mutiara. Saat seseorang mencari ilmu, kita bisa mencari ilmu dimana saja, bahkan sampai menyeberangi lautan, bahkan benua. Kita bisa belajar dimanapun, dari siapapun, bahkan dari orang-orang yang memiliki…
-
Hikmah di Balik Cobaan
Tanpa terasa, sudah enam bulan berlalu, sejak pemerintah mengumumkan bahwa ada warga negara Indonesia yang terinfeksi Covid-19. Berbagai perubahan gaya hidup harus kita lakukan. Termasuk merayakan lebaran yang berbeda dari biasanya. Tahun ini, sebagian besar masyarakat melaksanakan salat Id di rumah masing-masing. Kita merayakan lebaran tanpa kumpul-kumpul dengan keluarga besar. Semua interaksi diusahakan agar dilakukan secara daring. Bisa melalui telepon, video call, maupun whatsapp. Jika memungkinkan kerabat tetap datang tapi menjaga jarak, dan tidak melakukan kontak fisik. Tidak ada cium tangan, cipika-cipiki, bahkan makan ketupat bersama keluarga. Sangat berbeda dibandingkan lebaran di tahun-tahun sebelumnya. Meskipun demikian, untuk keselamatan bersama kita harus melakukannya. Tapi seperti kata orang bijak, selalu ada hikmah…









