5 steps of grieving
Family & Parenting,  Motivation,  self help,  Women's Life

Berdamai dengan Duka, Memahami Lima Tahap Berduka

Tulisan ini sebetulnya sudah mulai ditulis beberapa minggu yang lalu. Hanya saja saya belum sempat menyelesaikannya. Alhamdulillah hari ini bisa saya posting juga.

Ide tulisan ini muncul sekitar sebulan yang lalu, ketika saya dikejutkan oleh telepon dari tetangga di komplek tempat saya tinggal. Beliau memberitahukan, bahwa salah satu tetangga yang tinggal tak jauh dari rumah saya meninggal dunia. Saya betul-betul tidak menyangka, karena usianya yang relatif muda. Ternyata lima hari sebelum beliau wafat, Bapak ini sakit dan masuk rumah sakit. Berhubung kesibukan kami masing-masing, biasanya kami hanya bertemu saat kami akan pergi bekerja, itupun hanya sesekali saja. Sehingga boleh dibilang saya tidak tahu perkembangan terakhir di sekitar rumah. Tentunya, berita tersebut betul-betul mengejutkan saya. Selain terkejut, hal yang saya rasakan adalah berempati pada istri almarhum. Saya tahu bagaimana rasanya ditinggal tiba-tiba oleh orang yang sangat kita cintai.

Tiga setengah tahun yang lalu saya pun mengalami hal yang sama. Almarhum suami saya pergi untuk selamanya tanpa sakit atau memberi firasat apapun. Hanya 30 menit saya meninggalkannya, dan ternyata itu menjadi pertemuan kami yang terakhir. Berbagai rasa tidak nyaman campur aduk jadi satu. Sedih, tidak percaya, marah, menyesal, dan entah apa lagi, semuanya berkecamuk di dalam dada. Mendadak saya tidak ingin makan, sulit tidur, pikiran hanya fokus pada kata mengapa, bagaimana dan seandainya. Mengapa Allah memanggil dia pulang dengan mendadak, mengapa Allah tega melakukan ini pada kami, mengapa saya tidak menyadari tanda-tanda yang diberikan sesaat dia akan berpulang. Bagaimana kehidupan kami nanti setelah dia tiada.

Seandainya, juga menjadi kata yang terus berputar-putar dalam pikiran saya. Seandainya saya tidak keluar dan menemani dia saat itu, mungkin dia akan tertolong. Seandainya saya pergi bersamanya saat itu, mungkin ketika dia sakit saya bisa langsung membawa ke rumah sakit, dan berbagai seandainya. Tapi pada kenyataannya, saya tidak bisa melakukan apapun. Apa yang terjadi memang harus terjadi.

Berat badan saya susut 12 kg hanya dalam waktu tiga bulan. Tidak mudah bagi saya untuk mengurangi berat badan. Tapi kedukaan mengubah semuanya. Orang-orang bilang, wajah sedih saya nampak jelas terlihat. Ternyata saya tidak bisa menyembunyikan kesedihan saya.  Sebagai seorang sarjana psikologi, saya tahu bahwa kesedihan memiliki beberapa tahapan, sebelum pada akhirnya kita bisa berdamai dengan rasa duka yang kita alami. Oleh karenanya, saya tidak berusaha menyangkal rasa sedih yang datang.

Selama empat bulan, saya tidak kemana-mana. Saya hanya melakukan kegiatan disekitar rumah. Saat itu saya menjadi lebih pendiam, mudah menangis, mudah tersinggung, dan mudah cemas. Tapi bagaimanapun, saya harus berusaha untuk segera bangkit kembali, karena hidup terus berjalan. Saya hanya bisa mengikuti semua proses yang terjadi, seperti air mengalir. Pada akhirnya saya bisa melewati tahapan proses duka tersebut tanpa intervensi apapun dan siapapun. Kesadaran bahwa saya masih punya seorang putra yang masih membutuhkan bimbingan orangtuanya mau tidak mau membuat saya harus cepat bangkit kembali.

 Sebetulnya, apa saja tahapan yang dilalui saat kita mengalami hal-hal yang tidak kita harapkan?  Teori mengenai tahapan kesedihan, pertama kali diperkenalkan oleh psikiater dari Swiss, Kubler-Ross dibukunya On Death and Dying. Pada tahun 1969, Elisabeth Kubler-Ross menggambarkan lima tahap kesedihan yang popular disebut sebagai DABDA, yang terdiri dari:

  1. Denial (Penyangkalan)
  2. Anger (Kemarahan)
  3. Bargaining (Tawar Menawar)
  4. Depression (Depresi)
  5. Acceptance (Penerimaan)

Rincian dari lima tahapan berduka, dijelaskan dibawah ini:

Denial (penyangkalan)

Penyangkalan (denial) menurut Kubler-Ross, adalah tahap awal yang membantu agar bisa bertahan dari rasa kehilangan. Di tahap penyangkalan, mungkin kita merasa bahwa hidup jadi tak berarti, bahkan membebani. Disaat ini pulalah, kita mulai menolak berita ataupun informasi mengenai hal yang tidak kita sukai, dan ini menyebabkan timbulnya perasaan hampa. Pada umumnya, kita mulai bertanya-tanya bagaimana akan melanjutkan hidup dalam kondisi yang berbeda. Hal ini wajar, karena saat kita harus meninggalkan kehidupan yang sudah kita kenal, maka zona nyaman kita akan terganggu.

Ketika almarhum suami saya meninggal, saya masih berharap bahwa itu hanya mimpi, dan saya akan terbangun. Semuanya akan kembali normal seperti semula. Kadang saya bahkan berpikir, Tuhan akan memutar kembali waktu. Dilain hari, saya berpikir bahwa ia hanya pergi keluar kota, dan akan segera kembali. Dalam tahap penyangkalan, kita tidak hidup dalam realita sebenarnya, melainkan hidup dalam realita yang kita sukai. Hal yang menarik dari kondisi ini, ternyata penyangkalan dan shock, pada akhirnya membuat kita mampu mengatasi dan bertahan dari duka.

Penyangkalan membantu dalam mengendalikan perasaan duka. Alih-alih larut dalam kesedihan yang mendalam, kita malah berusaha menyangkalnya. Pada satu titik, kita akan kewalahan, tapi akhirnya kita akan mulai menyadari kemampuan kita dalam menghadapi masalah. Seiring waktu, saat rasa duka dan shock kita mulai memudar, mulailah proses penyembuhan kita. Di titik inilah, perasaan-perasaan yang pernah ditekan, akan muncul kepermukaan.

Anger (kemarahan)

Ketika kita mulai kembali menjejak bumi dan kembali ke kehidupan nyata kita, serta menyadari bahwa kehidupan tersebut bukanlah kehidupan yang kita inginkan, maka kita akan marah. Di tahap kemarahan akan muncul pertanyaan-pertanyaan “mengapa saya yang mengalami hal ini?”, Atau kita merasa bahwa hidup ini tidak adil. Kita bahkan mulai mencari pihak-pihak yang bisa disalahkan. Kita bahkan mengarahkan kemarahan pada teman dan keluarga dekat. Kita juga tidak bisa mempercayai bahwa hal semacam ini bisa terjadi pada kita.

Para peneliti dan profesional di bidang kesehatan mental setuju, bahwa tahapan kemarahan adalah tahap yang harus dilalui saat berduka. Penting sekali untuk mengenali dan merasakan kemarahan ini. Semakin cepat kita melaluinya, maka akan mempercepat proses pemulihan. Kemarahan yang ditujukan pada seseorang atau sesuatulah yang akan menjadi jembatan bagi individu untuk kembali ke realita dan terhubung dengan orang lain. Tahap kemarahan menjadi satu langkah alami dalam kesembuhan.

Bargaining (tawar menawar)

Ketika hal yang tidak kita inginkan terjadi, pernahkan kita berusaha untuk berkompromi dengan Tuhan? Itu yang saya lakukan. Saya berusaha menawar agar Tuhan memberikan keajaiban dan sebagai gantinya, saya berjanji akan menjadi istri yang lebih baik. Saya bahkan minta pada Tuhan untuk memberikan waktu satu jam saja agar saya bisa lebih lama bersama dengan almarhum. Saya berjanji, jika dikabulkan saya akan menjadi orang yang lebih baik lagi. Saya akan memaafkan semua orang yang telah jelas-jelas menyakiti saya. Saya akan jadi anak dan orangtua yang lebih baik, saya juga akan melakukan apapun perintah Tuhan tanpa kecuali. Meskipun mungkin itu sesuatu yang sulit untuk dilakukan.

Kubler – Ross mengatakan bahwa bisa dikatakan, pada tahapan ini kita memiliki harapan palsu. Kita mungkin berusaha percaya, bahwa kita bisa menghindari kesedihan dengan cara negosiasi. Dasar berpikirnya adalah, jika anda mengubahnya, saya juga akan mengubahnya.

Keputusasaan kita untuk mengembalikan kehidupan seperti sebelum peristiwa duka, membuat kita mau membuat perubahan besar, agar bisa hidup normal seperti semula. Pada saat ini, kata ‘seandainya’, adalah kata yang akan terus muncul.

Depression (depresi)

Depresi adalah bentuk kesedihan yang diterima secara umum. Faktanya, kebanyakan orang langsung mengasosiasikan depresi dengan kesedihan – karena ini adalah emosi “saat ini”.

Depresi mewakili kekosongan yang kita rasakan ketika kita hidup dalam kenyataan, dan menyadari bahwa orang atau situasi telah pergi atau berakhir.

Pada tahap ini, kita mungkin menarik diri dari kehidupan, merasa mati rasa, hidup dalam kelam dan tidak ingin bangun dari tempat tidur. Dunia mungkin tampak terlalu berlebihan dan terlalu membebani untuk dihadapi. Kita tidak ingin berada di sekitar orang lain, tidak ingin berbicara, dan mengalami perasaan putus asa. Yang paling parah dari tahap depresi, adalah seseorang bahkan mungkin mengalami pikiran untuk bunuh diri.

Acceptance (penerimaan)

Tahap terakhir dari kesedihan yang diidentifikasi oleh Kübler-Ross adalah penerimaan.

Bukan dalam arti bahwa “tidak apa-apa suami saya meninggal”, melainkan “suami saya meninggal, tetapi saya akan baik-baik saja.”

Pada tahap penerimaan, emosi kita mulai lebih stabil. Kita memasuki kembali kenyataan. Kita sudah bisa menerima kenyataan, bahwa pasangan kita tidak akan pernah kembali – atau bahwa kita akan menyerah pada penyakit yang kita idap dan segera meninggal – dan kita baik-baik saja dengan itu. Ini bukan hal yang “baik” – tetapi itu adalah sesuatu yang dapat kita jalani.

Di tahap penerimaan ini kita akan terus melakukan penyesuaian.  Ada hari baik, ada hari buruk, dan ada hari baik lagi. Tidak berarti kita tidak akan pernah mengalami hari buruk lagi – Mungkin saja pada saat tertentu, kita akan merasakan kesedihan yang amat sangat. Tapi, hari-hari baik cenderung lebih banyak daripada hari-hari buruk.

Ketika kita mulai menerima rasa duka itu, kita bisa keluar dari kabut yang menyelimuti perasaan kita.

Kita mulai berhubungan dengan teman lagi, dan bahkan mungkin membuat hubungan baru seiring berjalannya waktu. Kita memahami bahwa orang yang dicintai tidak akan pernah bisa tergantikan, tetapi kita bergerak, tumbuh, dan berkembang menjadi diri kita yang sekarang.

Setiap individu tidak akan sama saat mengalami tahapan duka ini. Mungkin ada yang tahapannya persis sama seperti yang dijelaskan oleh Kubler-Ross, tapi mungkin juga ada yang berbeda urutannya, atau bahkan tidak semua tahapan tersebut dilalui. Semuanya kembali lagi pada kepribadian individu dan kemampuannya untuk mengatasi masalah yang datang.

Meskipun begitu ada beberapa gejala duka yang bisa kita kenali. Gejala duka ini mungkin muncul secara fisik, sosial, atau spiritual. Beberapa gejala kesedihan yang paling umum disajikan di bawah ini:

  • Menangis
  • Sakit kepala
  • Kesulitan tidur
  • Mempertanyakan tujuan hidup
  • Mempertanyakan keyakinan spiritual kita (mis. keyakinan kita pada Tuhan)
  • Merasa tercerabut (tidak memiliki keterikatan) dengan orang disekitarnya.
  • Merasa terkucil (terisolasi) dari teman dan keluarga
  • Perilaku tidak normal (tidak seperti biasanya)
  • Cemas
  • Gelisah
  • Frustrasi
  • Merasa bersalah
  • Cepat lelah
  • Marah
  • Kehilangan selera makan
  • Sakit dan nyeri
  • Stres

Nah, bagaimana agar kita mampu untuk segera bangkit dan pulih dari rasa duka yang kita rasakan? Kembali saya katakan bahwa semuanya tergantung kepada diri dan kepribadian individu yang bersangkutan dalam menghadapi masalah yang dihadapinya.

Ketika saya harus menerima kenyataan bahwa suami tercinta tiba-tiba pergi untuk selamanya, saya merasa sedih, marah, dan kecewa. Saya banyak menyalahkan diri saya sendiri. Keluhan lainnya adalah gangguan tidur dan kehilangan selera makan. Bahkan dari pemeriksaan dokter, ternyata saya juga mengalami gangguan kesehatan yang cukup serius. Tapi toh, life must go on.

Bangkit dan mulai aktif kembali menata hidup, adalah langkah satu-satunya yang bisa dilakukan. Saya mulai mencari masukan dari orang-orang yang mengalami hal yang sama. Mencari tahu, bagaimana mereka menghadapi masalah ini. Saya mencoba bergaul lagi dan mulai aktif di lingkungan saya. Saya melakukan hal-hal yang saya sukai. Saya mulai mencoba berpikir dengan perspektif yang berbeda. Saya berusaha untuk melihat sisi positif dan hikmah dibalik ujian yang saya alami.

Satu hal yang selalu saya katakan dan yakinkan pada diri saya sendiri, adalah Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi umatnya. Mungkin saat peristiwa duka itu terjadi, kita tidak mengetahui apa tujuan Tuhan untuk kita. Tapi dikemudian hari, kita akan mengerti, mengapa Ia melakukan ini pada kita. Saat itulah kita tahu, bahwa betapa Sang Maha Pengasih mencintai kita.

Tidak mudah.  Tapi proses berpikir seperti itu membantu saya untuk segera bangkit dan berjuang untuk hidup saya dan anak saya.

Saya tahu setiap orang berbeda dalam menyikapi ujian. Ada yang bisa menjalani proses berdamai dengan duka secara alami, adapula yang mengalami kesulitan dalam mengatasinya.

Jika memang kita atau kerabat yang kita kenal, benar-benar kesulitan dalam mengatasi proses kesedihan ini, kita bisa menyarankan mereka untuk melakukan konseling pada profesional. Campur tangan konselor yang kompeten dibidangnya, tentu akan lebih membantu bagi proses pemulihan.

Sementara untuk saya, sampai saat ini saya masih belum benar-benar ikhlas melepas kepergian almarhum suami. Rasa cemas dan takut masih sering menghampiri. Terutama cemas ditinggalkan lagi oleh orang-orang yang saya sayangi.

Meskipun demikian, sedikit demi sedikit saya menyadari, bahwa semua ini adalah takdir Tuhan yang terbaik bagi saya dan keluarga. Saat kita tenggelam ke dasar terdalam dalam hidup kita, tidak ada jalan lain untuk selamat selain berusaha untuk menjejakkan kaki kita ke dasar pijakan sekuat mungkin, agar kita bisa kembali muncul dipermukaan.

Ada satu pesan yang diucapkan oleh KH. Buya Syakur Yasin yang berkesan bagi saya, beliau berkata bahwa, “Orang sabar ketika menghadapi ujian, ia tidak akan menyalahkan siapapun, segera mencari solusi bagaimana menyelesaikan. Berhasil atau tidak berhasil, Allah yang akan menentukan. Yang penting ia berusaha”.

Dan pada akhirnya, saya memilih untuk berusaha bangkit dan berjuang semampu saya, agar berhasil dan lulus ujian yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Saya yakin kita semua pasti bisa melakukannya. Seiring waktu, kita akan bisa berdamai dengan duka yang kita alami. Time is healing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!