Food

Food Combining, Pola Makan Sehat Untuk Hidup Lebih Bermakna

Sejak kecil saya sudah terlahir montok. Mungkin karena hal tersebut saya cenderung lebih gemuk dibandingkan teman-teman saya. Belum lagi saya berada dilingkungan keluarga yang terkenal karena kepandaian mereka memasak. Jadi saya terbiasa untuk selalu makan dengan hidangan yang kaya bumbu. Ayah saya akan complain jika masakan yang dibuat kurang ‘nendang’. Beliau pasti bilang, “Masakan kamu ga berani bumbu, Yan”. Jadi tidak heran, mayoritas keluarga kami ‘sterek-sterek’. Seperti gerombolan si berat dalam kartun Donald Bebek.

Saat masih berusia belasan sampai awal 40 tahun, hal ini tidak menjadi masalah. Tapi saat memasuki usia 45 tahun, mulai banyak keluhan yang dirasakan. Mungkin setelah sekian lama, akhirnya tubuh memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang salah dalam pengelolaan tubuh ini.

Sejak remaja sudah banyak diet yang saya coba. Melihat teman-teman yang langsing cenderung kurus, sering saya tergoda untuk berdiet karena ingin memiliki tubuh seperti mereka.

Sebenarnya untuk ukuran anak-anak jaman now, berat badan saya sudah cukup ideal. Dengan tinggi 159 cm, dan berat badan 55 kg, saya termasuk tidak gemuk, mungkin lebih cenderung ke montok. Hanya saja, remaja di tahun 80-an cenderung lebih langsing, dibandingkan remaja sekarang. Saat itulah perjalanan saya untuk mendapatkan tubuh ideal mulai dilakukan.

Kegemaran membaca, membuat saya sering membaca majalah remaja dan majalah wanita. Salah satu majalah wanita yang dimiliki mama dan memiliki rubrik diet, adalah majalah Femina.

Artikel dan rubrik diet itu yang menjadi rujukan saya untuk langsing. Saya bahkan pernah khusus ke dokter ahli gizi saat berat badan sudah merayap naik tak terkendali. Sayangnya saya tidak konsisten dalam menjalani semua diet itu. Apalagi ketika diet yang dilakukan harus mengukur dan menimbang makanan yang akan dikonsumsi setiap harinya.

Awalnya dengan semangat membara saya menyiapkan semuanya. Lama kelamaan saya mulai bosan, dan akhirnya kembali ke pola makan semula. Langsing sebentar, kemudian berat badan akan kembali seperti semula. Disebut juga sebagai yoyo diet. Sebentar langsing, sebentar gemuk.

Berat badan saya semakin bertambah saat saya hamil. Kehamilan anak pertama membuat berat badan yang awalnya 60 kg, bertambah menjadi 80 kg. Setelah melahirkan, berat badan mulai turun bertahap. Hanya saja, berat badan saya tidak pernah kembali ke 60 kg.

Saya tidak ingat pasti kapan tepatnya, tapi kalau tidak salah sekitar tahun 2002, ada satu buku yang menarik perhatian dan membuat saya tertarik untuk membelinya. Buku itu juga mendapatkan banyak ulasan. Judul bukunya  “Kombinasi Makanan Serasi Pola Makan Untuk Langsing dan Sehat,” yang ditulis oleh Andang Gunawan.

Andang Gunawan menjelaskan dibukunya, bahwa kombinasi makanan serasi, atau lebih dikenal dengan istilah  Food Combining (FC) sangat mudah untuk dilakukan. Mudah karena karena kita tidak perlu mengukur berapa gram makanan yang akan dikonsumsi. Kita hanya harus mengkombinasikan jenis makanan yang tepat, yang tidak membuat percernaan kita bekerja keras. Beliau juga mengingatkan bahwa ini bukan sekedar diet, tapi merupakan perubahan gaya hidup.

Saat itulah, saya tertarik untuk mencoba pola makan ini. Setelah melaksanakan FC selama seminggu, saya mulai merasakan efeknya. Badan rasanya lebih enteng, dibarengi dengan turunnya berat badan. Sayangnya seperti biasa, saya cepat bosan dan tidak konsisten, dan kembali ke pola makan semula.

Sekitar sebulan yang lalu, berat badan mulai naik kembali mencapai angka 88 kg. Saya mulai sering pusing saat bangun tidur, kolesterol bertahan di angka 245 padahal setiap hari rutin mengkonsumsi atorvastatin 20mg, serta kaki mudah bengkak. Saat itulah saya memutuskan untuk kembali menerapkan pola makan Food Combining (FC).

Alhamdulillah setelah tiga hari disiplin menerapkan FC dan juga berhenti berhenti minum kopi dan teh, bengkak di kaki saya mulai berkurang. Bahkan bengkak kaki itu akhirnya hilang beberapa hari kemudian. Berat badan juga mulai turun. Dalam tiga minggu berat badan saya turun 3 kg. Sekarang masih stabil di angka 85 kg.

Berhubung sekarang sering cheating dan rutin ngopi lagi, jika duduk agak lama, maka kaki akan bengkak dan pusing mulai datang lagi. Artinya, konsistensi adalah hal utama saat berkomitmen untuk merubah kebiasaan.

Jadi sebelum melaksanakan apapun, kita harus memastikan bahwa kita akan disiplin dan konsisten. Tidak boleh hangat-hangat tai ayam, kata orang tua dulu.

Sebetulnya apa sih Food Combining itu? Wied Harry yang merupakan salah satu praktisi FC menjelaskan, bahwa pada prinsipnya pola makan Food Combining mengutamakan bahan makanan segar dan alami, terutama sayuran dan buah segar, menjauhi makanan yang dimasak berlebihan maupun dipanaskan ulang, menghindari makanan awetan/kalengan/botolan/kemasan/instan/sejenisnya, dan menjauhi food additves sintetis (pewarna, pemanis, penstabil, pengemulsi, pelembut, pengawet, dan lain-lain).

Meskipun tanpa aturan ketat pembatasan kalori, pola makan ini dengan sendirinya memberikan cukup kalori dan cukup serat dengan nutrisi tinggi, Sebab, menu harian mengandung banyak buah dan sayuran segar tanpa berpantang pada jenis bahan makanan, termasuk makanan hewani-kecuali yang banyak lemak.

Buah disantap terpisah dari makanan selain buah. Disarankan jika bisa konsumsilah buah lokal. Buah yang matang, dan disantap dengan suhu ruang adalah yang terbaik.

Makanan sumber karbohidrat (nasi, umbi-umbian, dan lain-lain) tidak dikonsumsi berbarengan dengan makanan sumber protein hewani (daging, ayam, ikan, telur, dan lain-lain), tetapi masing-masing boleh digabung dengan sayuran.

Menu makan pagi dan kudapan pagi disarankan buah-buahan segar karena mudah dicerna, agar serasi dengan fungsi proses mencerna yang belum mulai aktif sebelum tengah hari. Namun, buah bisa dinikmati ketika perut kosong selain pagi, misalnya di antara waktu makan siang dan malam. Menu makan siang dianjurkan protein hewani dan sayuran (misalnya ayam goreng dan salad sayuran), sedangkan makan malam karbohidrat dan sayuran (contohnya nasi beras merah, sayuran, bakwan jagung, dan tempe tahu goreng). Porsi sayuran setiap kali makan minimum sama banyak dengan prosi makanan non-sayuran (Harry, 2013).

Selama kita mengerti aturannya, maka pola makan ini sangat mudah diterapkan. Yang penting harus konsisten dalam melaksanakannya. Dibawah ini diberikan contoh resep food combining yang biasa saya gunakan.

Bangun Tidur:

Langsung minum Jeniper (jeruk nipis peras) atau Lemper (lemon peras) yang dicampur dengan air hangat. Caranya isi air hangat di gelas, kemudian peras jeruk nipis. Minum perlahan, jangan langsung ditelan, tapi biarkan dulu bercampur dengan air liur kita.

Tunggu 15-30 menit sebelum mulai sarapan buah.

Sarapan Buah (15-30 menit setelah minum Jeniper – jam 11.30):

Alangkah lebih baiknya buah yang kita makan bervariasi. Tidak harus yang mahal, yang penting buah tersebut matang sempurna. Jangan ragu untuk makan buah saat perut kita terasa lapar.

Buah bisa langsung dimakan, dibuat juice, atau smoothie. Sebaiknya tidak menggunakan gula. Biarkan rasa manis datang dari si buah itu sendiri.

Tahap 1: Nanas, buah naga, jeruk.

Tahap 2: Pepaya, jeruk, mangga.

Tahap 3: Pepaya, jeruk, pisang.

Makan Siang (jam 12.00):

Disarankan makan siang untuk mengkonsumsi protein hewani, protein nabati, dan sayuran. Diperlukan waktu 4 jam mencerna protein hewani secara tuntas. Oleh karena itu disarankan untuk makan selingan, 4 jam setelah mengkonsumsi protein hewani.

  • Ayam bakar
  •  Tahu/tempe goreng
  •  Lalab dan sambal.
  • Sayur asem

Selingan (sekitar jam 16.00):

Buah-buahan: Pepaya, mangga, jeruk

Jika masih lapar boleh makan buah lagi sesuai selera dan secukupnya.

Makan Malam:

  • Nasi, jika ada lebih baik memilih nasi merah karena lebih kaya serat dibanding nasi putih.
  • Tumis jamur
  • Perkedel jagung
  • Lalab sambal

Makan enak tidak harus mahal. Jika kita pandai mengolahnya, maka selain lezat, makanan tersebut akan memberikan nutrisi cukup bagi tubuh. Yang penting, makanlah perlahan-lahan dan dikunyah sebaik mungkin.

Kemudian saat kita ingin menambah nasi atau lauknya, coba tunggu sebentar lebih kurang 2-5 menit, diam dulu jangan menambah apapun ke piring kita. Biasanya, keinginan menambah akan hilang, karena kita merasa kenyang. Dibutuhkan waktu beberapa menit bagi otak untuk menerima sinyal kenyang dari perut kita.

Sobat Ambunatya, Insya Allah saya akan menceritakan progres perubahan gaya hidup ini, 3 bulan yang akan datang.  Semoga bisa konsisten dan hasilnya sesuai harapan, yakni hidup lebih sehat dan bermakna.

Masih ingat kata ini ? Mens Sana In Corpo Re Sano, “dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat”.

Sumber: Harry, Wied. 2013. Rahasia Masak Wied Harry Enak Sehat Alami (Depok: Pustaka Bunda).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!