Family & Parenting,  Motivation,  self help

Hikmah di Balik Cobaan

Tanpa terasa, sudah enam bulan berlalu, sejak pemerintah mengumumkan bahwa ada warga negara Indonesia yang terinfeksi Covid-19. Berbagai perubahan gaya hidup harus kita lakukan. Termasuk merayakan lebaran yang berbeda dari biasanya. Tahun ini, sebagian besar masyarakat melaksanakan salat Id di rumah masing-masing. Kita merayakan lebaran tanpa kumpul-kumpul dengan keluarga besar. Semua interaksi diusahakan agar dilakukan secara daring. Bisa melalui telepon, video call, maupun whatsapp.

Jika memungkinkan kerabat tetap datang tapi menjaga jarak, dan tidak melakukan kontak fisik. Tidak ada cium tangan, cipika-cipiki, bahkan makan ketupat bersama keluarga. Sangat berbeda dibandingkan lebaran di tahun-tahun sebelumnya. Meskipun demikian, untuk keselamatan bersama kita harus melakukannya.  

Tapi seperti kata orang bijak, selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa. Menurut saya, kata-kata itu lumayan tepat untuk menggambarkan kondisi saat ini. Semuanya tidak terlepas dari pandemi Covid-19.

 Covid -19 merubah tatanan hidup manusia saat ini. Ada beberapa hal yang membutuhkan penyesuaian agar kita bisa tetap menjalankan kegiatan seperti biasa. Saat ini, penyesuaian itu dikenal dengan istilah kenormalan baru atau New Normal. Apa hikmah dibalik musibah yang kita alami ini, khususnya bagi kita rakyat Indonesia?

Ujian adalah sesuatu yang akan selalu datang dalam hidup manusia. Bentuk ujian itu bermacam-macam. Bisa dalam bentuk musibah, bisa dalam bentuk kemasyuran, bisa dalam bentuk harta, ataupun anak. Ujian ini adalah salah satu takdir yang harus dialami setiap insan Tuhan.

Sebagai seorang muslim, saya percaya pada takdir yang disebutkan dalam rukun Iman yang ke-6. Pandemi Covid-19 adalah salah bentuk takdir Tuhan yang diturunkan pada umat manusia. Mengapa Tuhan menurunkan Covid-19 ini?

Ada dua sudut pandang yang bisa kita gunakan untuk melihatnya. Melihat dari sisi positif atau melihat dari sudut negatif. Jika kita melihat dari sisi positif, maka kita bisa melihat bahwa wabah ini diturunkan agar manusia lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Penyayang secara personal, dalam keheningan di rumah masing-masing. Wabah ini juga mengingatkan kita, bahwa di luar sana ada orang-orang yang kurang beruntung. Apalagi wabah terjadi saat kita memasuki bulan Ramadhan. Bukankah Tuhan akan membalas semua kebaikan kita dengan ganjaran yang berlipat-lipat jika kita ikhlas membantu orang-orang yang membutuhkan?  Wabah ini juga membuka peluang-peluang baru bagi kita. Mungkin saatnya bagi sebagian dari kita untuk menemukan dan memaksimalkan potensi diri kita yang selama ini belum terasah.

Atau sebaliknya, kita melihat wabah ini sebagai bentuk hukuman Tuhan yang Maha Kuasa. Beranggapan bahwa wabah ini adalah bentuk azab dari Sang Maha Kuasa. Bahwa Tuhan sudah tidak sabar menghadapi manusia yang sudah semaunya sendiri. Yang hanya bisa mengeksploitasi alam dan sesama. Sehingga tidak ada jalan lain bagi-Nya untuk menghukum manusia agar berubah menjadi lebih baik.

Tetapi setelah mengalami dan menjalaninya, saya memilih untuk melihatnya dari sisi positif. Mengapa? Karena saya percaya, Tuhan adalah dzat Yang Maha Kasih. Ia adalah dzat yang tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya.

Dari berbagai media, saya melihat banyak pengusaha yang banting stir untuk beradaptasi dengan kondisi saat pandemi covid-19. Ada pengusaha garmen yang mengalihkan usaha pakaian olahraga ke APD, ada pengusaha baju pengantin yang beralih membuat masker, ada professional yang akhirnya berjualan makanan, dan usaha-usaha lainnya. Diperlukan kemampuan adaptasi yang tinggi agar kita tetap bisa bertahan. Tidak sedikit yang ternyata mampu melakukannya dengan baik. Pada akhirnya mereka menyadari, bahwa ternyata mereka memiliki potensi lain yang bisa dikembangkan.

Sementara itu untuk saya pribadi, satu manfaat positif dari adanya pandemi covid-19 adalah saya mulai belajar menulis. Cita-cita saya sejak kecil adalah menjadi penulis seperti Leila Chudori. Beliau adalah penulis berbakat yang saya kagumi. Ketika itu, saya sering membaca majalah Kuncung dan beliau adalah penulis muda di majalah tersebut. Sayangnya, saya tidak cukup percaya diri. Apalagi jaman itu belum ada internet. Tulisan seseorang hanya bisa tampil melalui media-media cetak. Proses yang dibutuhkannya cukup panjang. Akhirnya, keinginan menulis hanya sebatas angan saja.

Saya tidak pernah berpikir, bahwa kebosanan saat diberlakukannya PSBB mendorong saya untuk menuangkan segala uneg-uneg dan perasaan yang saya alami dalam bentuk tulisan. Covid-19 ini jugalah yang akhirnya mendorong saya untuk menciptakan Ambunatya.

Proses pembuatan Ambunatya ini tidak mudah. Apalagi dengan keterbatasan pengetahuan saya di bidang web-design. Saya membutuhkan waktu sampai tiga bulan untuk menyelesaikannya. Demi menghemat budget, saya belajar secara otodidak. Youtube, Niaga Hoster CS, dan Mbah Google menjadi guru saya. Saya kerjakan desain ini selangkah demi selangkah. Tentunya ada proses trial & error, hingga tercipta blog yang sesuai dengan gaya saya.

Proses pembuatan blog akan saya tulis di artikel lain, karena prosesnya yang lumayan panjang.  Tapi yang pasti, ada kepuasan tersendiri saat kita bisa melakukan sesuatu yang kita inginkan. Apalagi hal tersebut bisa bermanfaat bagi diri kita dan orang lain.  

Pada akhirnya kita yang harus memilih dan memutuskan, apa yang kita inginkan dalam hidup kita. Berkeluh kesah dan menyalahkan orang lain, atau merubah dan menghadapi tantangan di depan kita. Semua kembali pada diri kita sendiri. Kita yang memegang kendali untuk hidup kita, apakah menjadi pemenang atau pecundang. Setiap pilihan memiliki konsekuensi yang akan kembali pada kita.

Seperti pesan orang tua yang sering kita dengar, bijaklah dalam memilih. Karena pilihanmu, menentukan masa depanmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!