Family & Parenting,  Hacks,  Organization

Tip Pindah Rumah Aman dan Nyaman Bagian 1

Selamat Tinggal Ciremay 11 Bandung. Terima Kasih Telah Menjadi Bagian Hidup Keluarga Kami.

27 Desember 2020

Setelah lebih dari sebulan tidak posting, akhirnya di hari terakhir tahun 2020 ini, saya bisa duduk dan menulis artikel ini.  Kali ini saya akan membahas mengenai perasaan yang dialami, serta tip dan trik proses pindah rumah. Bahasan kali ini lumayan panjang lebar dibandingkan artikel-artikel yang saya tulis sebelumnya.  Oleh karenanya saya bagi menjadi dua bagian.

Pindah rumah adalah proses yang tidak mudah dan banyak menguras energi batin dan materi, khususnya bagi keluarga kami yang punya begitu banyak barang untuk dipindahkan.

Tanpa rencana, ibunda saya memutuskan pindah dari tempat tinggalnya. Selama ini beliau masih tinggal di rumah dinas. Jika merujuk pada aturan yang berlaku, seharusnya beliau masih bisa tinggal disana sampai akhir hayatnya. Sayangnya, dinas juga memerlukan rumah tersebut bagi para pejabatnya. Jadi akhirnya, setelah mendapat surat pemberitahuan pertama untuk pindah ke rumah lain yang ditunjuk, ibu memutuskan untuk segera pindah karena sudah merasa tidak nyaman. Apalagi memang dikondisikan seperti itu oleh dinas.

Sejak awal kami menyarankan beliau untuk pindah ke rumah kami anak-anaknya. Sebagai anak tentunya kami khawatir membiarkan seorang nenek berusia 79 tahun tinggal sendirian di rumah seluas 600 meter2. Tetapi seperti kebanyakan orangtua, beliau masih ngotot untuk bertahan. Sudah 43 tahun beliau tinggal di rumah Ciremay. Ada banyak kenangan bersama keluarga di sana. Hal ini yang menyebabkan beliau sulit memutuskan untuk pindah. Tapi akhirnya, mau tidak mau beliau harus pindah juga.

Kami pindah ke rumah Ciremay pada tahun 1977.  Usia saya waktu itu masih 8 tahun. Masih duduk di kelas 2 SD. Rumah itu adalah rumah kuno, peninggalan Belanda dengan plafon, pintu dan jendela yang besar dan tinggi-tinggi. Halamannya pun sangat luas. Teman-teman saya dan adik-adik pun sering menjadikan rumah kami ini sebagai markas berkumpul, karena sangat lapang dan nyaman.

Pada awalnya barang-barang yang kami bawa masih minimalis. Seiring dengan waktu, orangtua kami mulai mengisinya, sesuai dengan tren yang berlaku saat itu. Tanpa terasa, rumah besar itupun mulai penuh dengan barang. Belum lagi, rumah Ciremay ini sering jadi tempat kami anak-anak menitipkan barang. Maka bisa dibayangkan makin banyak barang didalamnya. Hanya saja, karena ukurannya yang luas, maka rumah tidak terlihat penuh sesak.  

Ayah saya adalah pencinta barang seni dan kerajinan. Kemanapun beliau bepergian, biasanya beliau akan membawa buah tangan dari daerah tersebut. Demikian juga dengan ibu. Meskipun hobi belanjanya masih dalam kategori normal, tetapi beliau adalah orang yang sulit membuang barang. Banyak barang yang masih disimpan dengan rapi, meskipun usianya sudah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun.

Sebetulnya ada sisi positif dari hobi kedua orangtua saya itu. Saya hampir tidak pernah membeli furniture, barang-barang pecah belah, maupun barang-barang dekorasi. Saya cukup datang ke rumah orangtua, dan memilih apa yang saya suka. Berbeda dengan adik-adik saya, karena mereka laki-laki, mereka tidak terlalu peduli dengan segala macam pernak-pernik dekorasi rumah.

Sayangnya, kami anak-anaknya tidak memiliki rumah seluas rumah Ciremay. Khususnya rumah saya, relatif kecil ukurannya. Ayah saya bahkan menyebutnya rumah burung, karena kecilnya. Oleh karena itu, barang-barang dengan ukuran jumbo, tidak bisa masuk ke rumah saya.

Sebagai satu-satunya anak perempuan, saya menjadi orang yang bertanggung jawab untuk membereskan semuanya. Dari mulai menyortir dan membagi-bagikan pada adik-adik saya.

Sebetulnya sejak pandemi, saya sudah mulai mencicil membagikan barang-barang milik ibu ke mereka.  Hanya saja proses intensifnya baru dimulai sejak tanggal 9 Desember 2020 sampai hari kepindahan pada tanggal 27 Desember 2020 yang lalu. Saya yang membereskan semua isi lemari, mulai dari pecah belah, dokumen, pakaian, pernak-pernik, dan sebagainya.

Setiap hari mulai jam 6 pagi sampai sore, saya membungkus semua barang dan memasukkannya ke dalam kardus yang sudah disiapkan. Saya juga menempelkan label peruntukannya agar lebih mudah mengelompokkan barang-barang tersebut.

Cape dan lumayan bikin stres. Belum lagi ibu saya yang tidak mau mengungsi dan membiarkan saya dan adik-adik saja yang mengurus proses pindahan ini. Beliau mungkin khawatir saya akan membuang barang-barangnya. 

Empat hari sebelum hari H, adik saya datang membantu. Meskipun sudah dibantu, rasanya barang yang kami bereskan tidak habis-habis. Kami benar-benar kewalahan untuk menyelesaikannya. Tapi karena proses yang terburu-buru, mau tidak mau kami terpaksa harus membawa sebagian besar barang tersebut, sebelum akhirnya baru melakukan proses memilah, menggunakan kembali, menjual, atau membuangnya.

Alhamdulillah akhirnya semua proses kepindahan ini selesai juga. Pada tanggal 27 Desember 2020, empat truk membawa barang-barang ibu kami kedua kota yang berbeda, ke Depok dan ke Banjar.

Dari proses kepindahan tersebut ada beberapa hal yang kami pelajari. Seperti orang bijak mengatakan, belajarlah dari pengalaman. Pengalaman inilah yang ingin saya bagikan secara rinci di artikel bagian kedua.

Oke sobat, sampai ketemu di artikel saya selanjutnya ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!